SDA Sulawesi Tenggara
Pertanian
Tanaman Pangan
Data yang disajikan untuk jenis tanaman bahan makanan yang diusahakan di Sulawesi Tenggara hanya 8 (delapan) jenis tanaman yang utama, yaitu padi sawah, padi ladang, jagung, ubi jalar, ubi kayu, kacang tanah, kacang kedelai dan kacang hijau.
Produksi padi sawah dan ladang yang tertinggi terdapat di Kabupaten Konawe yaitu mencapai 117.688 ton atau 34,63% dari produksi padi di seluruh wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Sedangkan Kabupaten Kolaka, Konawe Selatan, Bombana, Muna dan Buton, masing-masing sebesar 86.172 ton (26,36%), 66.610 ton (19,60%), 34.313 ton (10,10%), 11.899 ton (3,50%), dan 10.208 ton (3,00%).
Produktivitas untuk jenis padi sawah yang tertinggi ada di Kabupaten Konawe yaitu mencapai 40,36 ku/ha, disusul Kabupaten Konawe Selatan sebesar 39,3916 ku/ha. Sedangkan produktivitas pada Kabupaten Kolaka Utara, Kolaka, Bombana, Buton dan Muna, masing-masing mencapai 39,35 ku/ha, 39,03 ku/ha, 38,12 ku/ha, 38,06 ku/ha, dan 29,36 ku/ha.
Sedangkan, untuk produktivitas padi ladang, yang tertinggi adalah di Kota Bau-Bau sebesar 28,53 ku/ha, Kabupaten Kolaka sebesar 27,99 ku/ha, Kabupaten Konawe sebesar 26,99 ku/ha, Kabupaten Kolaka sebesar 26,06 ku/ha dan kabupaten Konawe Selatan sebesar 22,99 ku/ha. Untuk tanaman pangan setara beras (PSB), produksi terbesar yaitu tanaman ubi kayu dengan produksi sebanyak 256.467 tondengan luas panen sebesar 14.820 ha, dan selanjutnya tanaman jagung sebanyak 73.153 ton dengan luas panen sebesar 32.665 ha.
Dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat akan bahan makanan di Provinsi Sulawesi Tenggara yang semakin meningkat tiap tahunnya, maka selain dari produksi lokal, Depot Logistik (Dolog) Provinsi Sulawesi Tenggara berusaha menyuplai beberapa jenis bahan makanan pokok. Jenis bahan makanan pokok yang dipasok oleh Dolog Sulawesi Tenggara adalah beras. Beras yang disuplai oleh Dolog Sulawesi Tenggara tahun 2005 mengalami penurunan sebesar 8,46%.
Tanaman Buah-buahan
Jenis tanaman buah-buahan yang diusahakan di Sulawesi Tenggara hanya disajikan 17 jenis yaitu : alpokat, mangga, rambutan, langsat, jeruk, jambu biji, jambu air, durian, pepaya, pisang, nenas, salak, nangka, sawo, sukun, belimbing dan sirsak.
Produksi tertinggi adalah pisang sebanyak 245.817 kuintal. Produksi tersebut terdapat di Kabupaten Kolaka sebanyak 94.251 kuintal, Kabupaten Muna 64.515 kuintal, Kabupaten konawe Selatan 25.746 kuintal, Kabupaten Buton 18,811 kuintal, Kabupaten Wakatobi sebanyak 11.713 kuintal dan Kabupaten Konawe sebanyak 11.214 kuintal. Selanjutnya produksi buah-buahan yang terbesar kedua adalah tanaman jeruk dengan produksi sebanyak 125.543 kuintal.
Produksi Buah-buahan menurut Jenis Tanaman dan kabupaten/Kota, 2005 (kuintal)
|
Jenis Tanaman |
Kabupaten / Kota |
Jumlah |
|||||||||
|
Buton |
Muna |
Konawe |
Konawe Selatan |
Kolaka |
Kota Kendari |
Kota Bau-Bau |
Wakatobi |
Bombana |
Kolaka Utara |
||
|
1. Alpokat 2. Mangga 3. Rambutan 4. Langsat 5. Jeruk 6. Jambu Biji 7. Jambu Air 8. Durian 9. Pepaya 10. Pisang 11. Nenas 12. Salak 13. Nangka 14. Sawo 15. Sukun 16. Belimbing 17. Sirsak 18. Manggis 19. Melon 20. Semangka |
28 4,716 1,248 12 3,873 4,261 2,846 43 5,107 18,811 1,016 345 16,713 0 925 0 1,108 8 0 0 |
136 18,243 9,846 14,116 20,914 1,045 4,567 10 7,251 64,515 4,372 642 14,987 18 653 0 235 0 0 5,134 |
51 6,715 2,648 20,367 11,440 1,527 1,379 4,138 1,168 11,214 1,126 475 6,113 1 642 0 426 5 0 72 |
157 6,158 4,812 3,654 7,380 1,236 1,984 1,181 1,828 25,746 1,141 126 10,451 15 61 0 253 1 10 546 |
498 25,149 22,215 8,692 73,523 1,194 2,357 20,813 12,752 94,251 1,947 2,154 19,214 110 2,038 0 518 2 0 9,419 |
84 491 465 256 332 368 441 170 2,572 7,576 1,072 72 1,374 3 822 0 224 0 0 10 |
109 3,385 524 5 4,528 135 796 0 814 6,544 27 10 1,638 5 991 0 48 0 0 90 |
0 3,187 0 0 2,627 113 764 0 573 11,713 974 0 3,142 0 57 0 285 0 0 46 |
0 3,847 0 0 79 158 53 107 245 4,389 26 48 561 0 32 0 0 0 0 358 |
165 571 85 985 841 54 185 1,364 654 1,058 302 152 258 0 191 0 17 0 0 0 |
1,228 72,462 41,843 48,087 125,543 10,091 15,372 27,826 32,964 245,817 12,003 4,024 74,451 152 6,412 0 3,114 16 10 15,675 |
Tanaman Sayur-sayuran
Jenis tanaman sayur-sayuran meliputi 2 (dua) kelompok, yaitu kelompok tanaman sayur-sayuran yang dipanen lebih dari satu kali dan kelompok tanaman sayur-sayuran yang dipanen sekaligus. Kelompok pertama terdiri dari 9 (sembilan) jenis, yaitu kacang panjang, cabe, tomat, terung, buncis, ketimun, labu, kangkung dan bayam. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari 6 (enam) jenis, yaitu bawang merah, bawang putih, bawang daun, kubis, petsai/sawi dan kacang merah.
Produksi tertinggi dari tanaman sayur-sayuran yang dipanen berkali-kali, yaitu kacang panjang sebanyak 54.088 kuintal. Produksi tersebut terdapat di Kabupaten Muna sebanyak 12.642 kuintal, Kabupaten Kolaka sebanyak 11.249 kuintal, Kabupaten Konawe sebanyak 10.217 kuintal, di Kota Kendari sebanyak 6.326 kuintal dan di Kabupaten Konawe Selatan sebanyak 5.131 kuintal. Sisanya tersebar di Kabupaten Kolaka Utara, Buton, Bombana dan Kota Bau-Bau.
Produksi tertinggi dari tanaman sayur-sayuran yang dipanen sekaligus adalah tanaman petsai/sawi sebesar 24.804 kuintal, yang tersebar di 9 (sembilan) kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Konawe Selatan sebanyak 9.135 kuintal, Kabupaten Kolaka 5.190 kuintal dan Kabupaten Konawe sebanyak 4.682 kuintal, Kota Kendari sebanyak 2.344 kuintal, Kabupaten Muna sebanyak 1.328 kuintal, Kabupaten Buton sebanyak 1.181 kuintal. Sedangkan Kabupaten Wakatobi, Kolaka Utara dan Kota Bau-Bau nilai produksinya di bawah 1.000 kuintal, yang tersebar di 8 (delapan) Wilayah Kabupaten dan Kota.
Tanaman Perkebunan
Jenis tanaman perkebunan rakyat terdiri dari 19 jenis tanaman, yaitu kelapa dalam, kopi, kapuk, lada, pala, cengkeh, jambu mete, kemiri, coklat, enau, vanili, pinang, asam jawa, tembakau, kelapa hybrida, kapas rakyat, tebu, jahe, dan sagu. Dari 19 jenis tanaman perkebunan rakyat yang diusahakan tadi, yang sedang dikembangkan karena produksinya sangat potensial untuk ekspor baru 7 (tujuh) jenis, yaitu kelapa, kopi, lada, cengkeh, jambu mete, coklat dan sagu.
Pada tahun 2005 hanya 9 (sembilan) jenis tanaman perkebunan yang mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan produksi tahun 2004, yaitu tanaman kopi, lada, cengkeh, jambu mete, coklat, enau, asam jawa, pinang dan vanili. Sedangkan 6 (enam) jenis tanaman perkebunan lainnya mengalami penurunan bila dibandingkan dengan produksi tahun 2004. Tanaman-tanaman tersebut adalah tanaman kelapa dalam, kapuk, pala, kemiri, kelapa hybrida dan sagu.
Produksi tanaman perkebunan tahun 2005 yang tertinggi adalah tanaman coklat, yakni mencapai 126.812 ton, yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten dan kota. Kemudian diikuti tanaman jambu mete dengan produksi sebanyak 35.367 ton, yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten dan kota.
Ditinjau dari luas areal tanaman perkebunan rakyat, yang terluas adalah kakao/coklat, yakni seluas 191.857 ha, kemudian jambu mete seluas 120.716 ha, kelapa dalam seluas 50.378 ha, lada 12.806 ha, kopi 10.710 ha, cengkeh dan enau masing-masing seluas 7.634 ha dan 5.230 ha.
Pertambangan
Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki potensi sumberdaya alam tambang antara lain : nikel, aspal, marmer dan minyak bumi. Potensi tersebut telah diolah oleh perusahaan besar yaitu PT. Aneka Tambang (ANTAM) yang mengelola pertambangan nikel di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, PT Sarana Karya yang mengelola pertambangan aspal yang terletak di Banabungi, Kabupaten Buton. Kedua perusahaan diatas merupakan perusahaan BUMN. Selain itu ada PT. Bakrie Prima yang mengelola pertambangan batu marmer di Moramo, Kabupaten Konawe Selatan.
Produksi dan Nilai Produksi Hasil Pertambangan Nikel
|
Tahun |
Produksi (Ton) |
Nilai Produksi (Juta Rp.) |
||
|
Biji Nikel |
Ferro Nikel |
Biji Nikel |
Ferro Nikel |
|
|
1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 |
697,999 794,771 700,740 969,689 1,702,267 1,426,672 1,157,657 |
9,205 10,110 9,302 - 8,297,135 7,441,235 9,892,440 |
82,708 187,167 165,051 96,534 287,280 - 410,506 |
347,327 697,879 604,163 - 628,337 - 925,409 |
Sumber : PT. ANTAM Unit Pertambangan Nikel, Pomalaa
Produksi dan Nilai Produksi Hasil Pertambangan Aspal
|
Tahun |
Produksi (Ton) |
Nilai Produksi (Juta Rp.) |
|
2000 2001 2002 2003 2004 |
8,671 1,044 976 1850,78 20,000,00 |
1,372 204 238 555,23 928,49 |
Sumber : PT. Sarana Karya (Persero) Banabungi, Buton
Kehutanan
Kawasan hutan di Provinsi Sulawesi Tenggara menurut fungsinya terdiri dari 5 (lima) jenis, yaitu hutan produksi biasa, hutan produksi terbatas, hutan lindung, hutan wisata/PPA dan hutan produksi yang dapat dikonversi.
Luas kawasan hutan di Sulawesi Tenggara tersebut seperti yang dapat dilihat pada Tabel 00 adalah seluas 2.600.137 ha atau 68,17% dari luas daratan. Menurut kabupaten/kota, menunjukkan 923,980 ha atau 35,54% terdapat di Kabupaten Konawe, 517,775 ha atau 19,91% terdapat di Kabupaten Kolaka, 250,686 ha atau 9,64% terdapat di Kabupaten Konawe Selatan, 244,299 ha atau 9,50% terdapat di Kabupaten Kolaka Utara, 244,292 ha atau 9,39% terdapat di Kabupaten Bombana, 237,377 ha atau 9,13% terdapat di Kabupaten Muna, 148,845 ha atau 5,72% terdapat di kabupaten Buton, 13,487 ha atau 0,48% terdapat di kabupaten Wakatobi, 12,429 ha atau 0,48% terdapat di Kota Bau-Bau, dan 4.364 ha atau 0,17% terdapat di Kota Kendari.
Menurut fungsinya, 633.431 ha atau 24,36% adalah hutan produksi biasa, 419.244 ha atau 16,12% adalah hutan produksi terbatas, 1.016.270 ha atau 40,82% adalah hutan lindung, 212,123 ha atau 8,16% hutan produksi yang dapat dikonversikan dan seluas 274.069 ha atau 10,54% adalah hutan wisata/PPA.
Produksi kayu Sulawesi Tenggara tahun 2005 yang meliputi kayu jati logs, kayu jati gergajian, kayu rimba logs dan kayu rimba gergajian, masing-masing tercatat sebanyak 23.056,074 m3, 6.627,11 m3, 41.875,343 m3 dan 17.735,20 m3. Dan produksi rotan 9.236,51 ton turun sebesar 11,94% dibanding tahun 2004.
Pariwisata
Pengembangan kepariwisataan daerah Sulawesi Tenggara yang diindikasikan dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan beberapa tahun terakhir ini telah mendorong berkembangnya obyek-obyek wisata baru di daerah ini. Beberapa obyek wisata yang telah berkembang dewasa ini, baik berupa pesona alam, pesona budaya dan sejarah maupun perkampungan kerajinan tangan adalah sebagai berikut :
1. Teluk Kendari (Kota Kendari)
2. Pantai Maya Ria (Kota Kendari)
3. Museum Negeri Prov. Sultra (Kota Kendari)
4. Dekranasda Prov. Sultra (Kota Kendari)
5. Perkampungan Gembol (Kota Kendari)
6. Pulau Bokori (Kabupaten Konawe)
7. Taman Nasional Rawa Aopa-Watumohai (Kabupaten Konawe)
8. Pantai Soropia (Kabupaten Konawe)
9. Pantai Batu Gong (Kabupaten Konawe)
10. Pantai Taipa (Kabupaten Konawe)
11. Air Terjun Moramo (kabupaten Konsel)
12. Danau Napabale (Kabupaten Muna)
13. Gua Lia Ngkobori (Kabupaten Muna)
14. Adu Kuda Jantan (Kabupaten Muna)
15. Perkampungan Tenun Adat (Kabupaten Muna)
16. Pulau Liwutongkidi (Kabupaten Buton)
17. Hutan Lindung Lambusango (Kabupaten Buton)
18. Hutan Lindung Kakanauwe (Kabupaten Buton)
19. Pantai Nirwana (Kota Bau-Bau)
20. Keraton Buton (Kota Bau-Bau)
21. Taman Nasional Laut Wakatobi (Kabupaten Wakatobi)
22. Pulau Hoga (Kabupaten Wakatobi)
23. Pulau Onemobaa (Kabupaten Wakatobi)
24. Danau Biru (Kabupaten Kolaka Utara)
Perikanan dan Kelautan
Potensi Sumberdaya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Provinsi Sulawesi Tenggara dengan luas ± 153.019 Km2 terdiri dari wilayah daratan 38.140 Km2 dan wilayah perairan laut 114.879 Km2. Wilayah pesisir dan perairan laut Sulawesi Tenggara dikelilingi oleh Laut Banda, Laut Flores, Laut Maluku dan Teluk Bone, memiliki potensi sumberdaya alam seperti tambang mineral serta keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, seperti Estuaria, Mangrove, Padang Lamun, Terumbu Karang dan Pantai Berpasir. Biota penghuni ekosistem ini beberapa diantaranya merupakan biota yang bernilai ekonomi penting seperti Ikan Karang, Crustacea, Molusca dan Sponge.
Selain itu daerah ini juga memiliki beberapa obyek wisata bahari yang sangat terkenal karena memiliki biodiversitas yang tinggi, seperti Taman Nasional Laut Wakatobi. Kawasan wisata lainnya yang terdapat di Sulawesi Tenggara adalah perairan Pulau Hari (Kabupaten Konawe Selatan), Perairan Tiworo Kepulauan (Kabupaten Muna), perairan Pulau Kadatua, Pulau Siompu dan Pulau Kabaena (Kabupaten Bombana).
Semua potensi sumberdaya pesisir dan laut tersebut, pengelolaannya sampai saat ini belum tertata dengan baik sehingga manfaat ekologis, sosial dan ekonomi belum optimal. Seiring dengan semakin intensifnya pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut untuk berbagai kegiatan seperti : budidaya laut, pemukiman, wisata bahari, perhubungan, pengembangan industri dan sektor lainnya, maka telah menimbulkan tekanan terhadap ekosistem pesisir dan laut.
Kondisi tersebut diatas semakin parah oleh adanya pemanfaatan wilayah pesisir yang belum jelas kepemilikan dan penguasaan sumberdaya pesisir, belum adanya hukum yang menjamin untuk mengembangkan usaha dan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan. Keadaan tersebut berpotensi dan bahkan telah menimbulkan konflik kepentingan dan konflik kewenangan pengelolaan pesisir diberbagai kawasan.
Akhir-akhir ini pemanfaatan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil Sulawesi Tenggara sering menimbulkan konflik kepentingan dengan masyarakat setempat. Masyarakat setempat merasa tertekan dengan kegiatan di kawasan pesisir dan perairan laut yang bersifat destruktif seperti, penggunaan bom dan sianida dalam menangkap ikan serta eksploitasi biota-biota yang dilindungi baik yang dilakukan oleh nelayan setempat maupun yang berasal dari luar Sulawesi Tenggara.
Dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang dihadapkan pada beberapa hambatan, antara lain : data dan informasi yang masih terbatas, tata batas dengan rambu-rambu untuk penetapan zonasi belum tersedia dan pemahaman masyarakat terhadap pelestarian sumberdaya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil masih relatif rendah. Merujuk dari gambaran potensi sumberdaya yang dimiliki dan tingkat pengelolaan, maka perlu selalu mencari solusi yang terbaik agar dapat memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan mendatang secara berkelanjutan.
Potensi Perikanan Tangkap
Potensi kelautan dan perikanan cukup besar, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik. Hal ini dapat dilihat pada sumbangan sub sektor kelautan dan perikanan terhadap Produk Domestik Regional Bruto Sulawesi Tenggara baru sebesar 12,10 %. Potensi perikanan laut diperkirakan sebesar 500.000 ton/tahun, yang dapat dimanfaatkan secara lestari diperkirakan sebesar 250.000 ton/tahun.
Berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor : 995/Kpts/IK.210/9/99 tentang potensi sumberdaya ikan dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB), Provinsi Sulawesi Tenggara mempunyai kewenangan mengelola sumberdaya ikan di Laut Flores dan Selat Makassar dengan kandungan ikan yang dapat dieksploitasi (JTB) sekitar 542.800 ton/tahun yang terdiri dari ikan pelagis 79.200 ton/tahun, ikan karang 12.300 ton/tahun dan ikan hias 225.000.000 ekor/tahun.
Berdasarkan data statistik perikanan tangkap, jumlah produksi penangkapan di laut Sulawesi Tenggara tahun 2004 baru mencapai 187.657,5 ton, jika dibandingkan dengan potensi lestari 250.000 ton/tahun maka tingkat pemanfaatannya baru mencapai 75,06 %. Pemanfaatan ikan sebagian besar dilakukan oleh nelayan skala kecil dengan menggunakan perahu tanpa motor dan alat tangkap ikan yang digunakan adalah pancing dan jaring insang.
Pada periode tahun 2000 - 2004 perkembangan produksi perikanan tangkap mengalami kenaikan rata-rata tiap tahun sebesar 5,10 %. Produksi penangkapan masih didominasi dari penangkapan di laut (persentase kenaikan rata-rata tiap tahun sebesar 5,18 %) dibandingkan dengan penangkapan di perairan umum.
Perkembangan ekspor hasil perikanan Sulawesi Tenggara menunjukan peningkatan yang signifikan untuk masing-masing komoditas perikanan pada tahun 2004. Volume ekspor hasil perikanan Sulawesi Tenggara tahun 2004 sebesar 6.180,16 ton atau senilai dengan Rp. 146.463.124.160,-. Sedangkan perdagangan antar pulau/antar provinsi komoditas perikanan Sulawesi Tenggara tahun 2004 sebesar 16.674,73 ton atau senilai dengan Rp. 22.918.281.000.
Jumlah nelayan mengalami peningkatan walaupun tidak terlalu tinggi, dengan kenaikan rata-rata tiap tahun sebesar 5,38 %. Peningkatan jumlah nelayan disebabkan adanya pegeseran orientasi mata pencaharian masyarakat kepada kegiatan penangkapan ikan serta adanya imigran/eksodus dari daerah lain. Peningkatan ini menunjukan bahwa sektor perikanan tangkap mampu menyediakan lapangan pekerjaan.
Peningkatan produksi penangkapan ikan di laut, tidak terlepas dari bertambahnya sarana penangkapan ikan. Dari data yang ada menunjukan bahwa armada penangkapan didominasi oleh perahu tanpa motor, tetapi peningkatannya dari tahun 2003 ke tahun 2004 sangat kecil (0,01%). Hal ini menunjukan bahwa nelayan sudah mulai beralih untuk menggunakan peralatan yang lebih produktif. Hal ini dapat dilihat pada peningkatan penggunaan motor tempel sebesar 7,58 % pada tahun 2004. Penggunaan motor tempel dapat menjangkau daerah penangkapan yang lebih jauh.
Potensi Perikanan Budidaya
Sulawesi Tenggara dengan panjang pantai diperkirakan 1.740 Km dengan kondisi perairan yang cukup subur memiliki potensi budidaya laut indikatif seluas 159.820 Ha dan efektif seluas 47.479 Ha yang dimanfaatkan untuk usaha budidaya dengan komoditas utama Kerapu, Rumput Laut, Teripang dan Mutiara.
Potensi Lahan Budidaya Laut
|
No. |
Jenis Kegiatan Budidaya |
Indikatif (Ha) |
Efektif (Ha) |
Jumlah (Ha) |
|
1. |
Rumput Laut |
54.770 |
27.385 |
82.155 |
|
2. |
Keramba Jaring Apung (KJA) |
45.240 |
452 |
45.692 |
|
3. |
Teripang |
22.434 |
954 |
23.388 |
|
4. |
Mutiara |
37.376 |
18.688 |
56.064 |
|
|
Total |
159.820 |
47.479 |
207.299 |
Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Sultra
Potensi perikanan budidaya air payau seperti kawasan mangrove dan pasang surut, yang dapat dikonversi menjadi tambak seluas 44.669 Ha. Namun yang dimanfaatkan menjadi tambak produktif baru mencapai 15.618 Ha dengan penerapan teknologi budidaya tradisional, tradisional plus dan intensif dengan komoditas utama Udang dan Bandeng.
Potensi perikanan budidaya air tawar Sulawesi Tenggara yaitu kawasan yang memiliki sumber air tawar sepanjang tahun diperkirakan seluas 31.231 Ha, yang dapat dikonversi menjadi kolam seluas 20.875 Ha. Dari luas lahan potensi tersebut, yang baru dikelola dan dimanfaatkan untuk usaha budidaya dengan komoditas utama Ikan Mas, Nila, dan Lele seluas 836,4 Ha pada tahun 2004.
- 2755 reads
Send to friend
