SDA Sulawesi Selatan

Versi printer-friendly

Sebelum membahas potensi daerah Provinsi Sulsel, terlebih dahulu perlu dipaparkan kondisi riil perubahan lahan pada tahun 1998 dan tahun 2005. Berdasarkan RTRWP (2001-2015) terlihat bahwa perkembangan persentase luasan lahan wilayah Provinsi Sulawesi Selatan menurut fungsinya dari tahun 1995 dan 1998 secara umum cenderung mengalami peningkatan yang signifikan, kecuali pada beberapa fungsi lahan berupa swah tadah hujan, ladang/huma, padang rumput, lahan tidak diusahakan, hutan rakyat, dan rawa-rawa/kolam.

Selanjutnya jika melihat prosentase fungsi lahan di Sulsel pada tahun 2005, maka secara  umum fungsi lahan tersebut di atas nampak mengalami perubahan lagi. Luas lahan yang paling banyak mengalami perubahan adalah rawa-rawa dari tahun 1998 hingga tahun 2005 dengan pengurangan hingga 78 % dari 25.752 hektar (1998) menjadi 5.572 hektar (2005). Disusul pengurangan ladang/huma sebesar 70 %, kolam/empang sebesar 33 %, irigasi desa berkurang 40 %, irigasi sederhana sebesar 32 %, dan pengurangan hutan sebesar 2 % dari 2.725.184 hektar (1998) menjadi 2.669.295 hektar (2005). Sementara beberapa lahan mengalami pertambahan yang signifikan pula, seperti irigasi teknis, perkebunan, pertambakan.

Potensi Pertanian

Berdasarkan informasi potensi daerah dan peluang investasi di Provinsi Sulsel yang dipublikasikan Badan Pengembangan dan Penanaman Modal Daerah (BPPMD) Sulsel, maka potensi pertanian masih  memiliki peluang pengembangan yang cukup besar di masa akan datang, apalagi didukung dengan pertumbuhan industri pengolahan berbasis sumberdaya pertanian.

Komoditi pertanian yang tengah dioptimalkan pengembangannya di Sulsel, selain padi, adalah tanaman palawija berupa jagung, kentang, kedelai, jeruk, ubi jalar, dan ubi kayu. Pengembangan komoditi ini dapat dilihat pada data BPS (Sulsel Dalam Angka 2006) sebagai berikut; Jagung hingga tahun 2005 memiliki luas panen 206.569 hektar dengan produksi 705.995 ton, ubi jalar luas panen 4000 hektar dengan produksi 53,513 ton, ubi kayu luas panen 27.568 hektar dengan produksi 464.436 ton, kacang tanah luas 36.042 hektar dengan produksi 39.092 ton, kedelai luas 16.347 hektar dengan produksi 27.187 ton, kacang hijau luas panen 23.779 hektar dengan produksi 28.941 ton.

Potensi Perkebunan

Potensi sumberdaya alam dari sektor perkebunan sudah banyak diminati perusahaan perkebunan besar. Hal ini dapat dilihat dengan adanya 28 buah perusahaan besar dengan luas lahan yang dipakai 83.920,87 hektar dan luas tanaman 15.723,34 hektar. Jenis tanaman perkebunan yang dikembangkan 9 jenis tanaman yaitu karet, teh, jambu mente, kelapa hibrida, kakao, kelapa sawit, kenari, kelapa dalam, dan kopi arabika.

Dilihat banyaknya perusahaan perkebunan besar yang beroperasi di kabupaten/kota, maka Kabupaten Tator merupakan daerah yang paling banyak perusahaan perkebunan besar berinvestasi dengan 9 perusahaan besar. Jenis komoditi yang dikembangkan adalah Kopi Arabica diatas lahan seluas 6.543,18 hektar. Disusul kabupaten Luwu Utara dengan 4 perusahaan besar dengan jenis komoditi kelapa sawit, kelapa dalam, dan kelapa hibrida. Pengembangannya jenis tersebut di atas lahan seluas 45.801,61 hektar.

Selain itu, potensi perkebunan juga banyak ditopang oleh pertumbuhan usaha perkebunan rakyat yang hampir meliputi seluruh wilayah Sulsel. Dari data yang ada, tahun 2005 lalu, perkebunan rakyat terdapat di 20 kabupaten (kecuali 3 kota yakni Makassar, Palopo, dan Parepare), luas keseluruhannya mencapai 101.375,40 hektar dengan produksi 63.440,31 ton. Adapun jenis yang dikembangkan sebanyak 33 komoditi. Komoditi  unggulan adalah kakao dengan luas areal 222.566,82 hektar dan produksi mencapai 178.424,61 ton. Ini berarti prospek sumberdaya perkebunan yang kelola oleh rakyat sendiri jauh lebih besar ketimbang yang dikelola perusahaan besar.

Potensi Kehutanan

Berdasarkan data luas kawasan hutan kabupaten/kota di Sulsel pada tahun 2005 menunjukkan,  luas hutan lindung (HL) 1.224.279,65 hektar, hutan produksi terbatas (HPT) sekitar 488.551 hektar, dan hutan produksi biasa (HPB) 131.041,10 hektar. Kawasan hutan lindung yang paling luas berada di Kabupaten Luwu Timur seluas 233.163,75 hektar, disusul Luwu Utara seluas 419.108 hektra, dan Tana Toraja 138.101 hektar. Sementara kabupaten yang terluas hutan produksi terbatas-nya adalah Kabupaten Luwu Utara 132.895 hektar, dan kabupaten yang terluas hutan produksi biasa-nya adalah Kabupaten Gowa sebanyak 22.109 hektar.

Potensi  sumberdaya hutan dapat dilihat dari data produksi hasil hutan baik berupa kayu maupun non-kayu selama tiga tahun (2003-2005). Hasil ini meliputi produksi kayu, baik dari hak penguasaan hutan maupun non hak penguasaan hutan, dan hasil produksi hutan non-kayu, berupa rotan, damar, kayu gaharu, dan getah pinus.

Potensi Perikanan dan Kelautan

Potensi sektor perikanan Provinsi Sulsel meliputi perikanan laut dan perikanan darat (tambak air payau, kolam, sawah, danau, sungai, dan rawa).         Berdasarkan data produksi perikanan menurut kabupaten/kota di Sulsel pada tahun 2005 menunjukkan, secara keseluruhan produksi perikanan laut mencapai 315.734 ton dengan daerah pengahasil terbesar adalah Kabupaten Bone sebesar 67.707,9 ton. Kemudian menyusul Kabupaten Jeneponto dengan 43.670,7 ton, Kabupaten Takalar sebesar 39.543,5 ton.  Sementara produksi perikanan darat secara keseluruhan mencapai 425.753,44 ton yang meliputi tambak 391.745,40 ton, kolam 13.798,90 ton, sawah 37,442 ton, danau 14.252,40 ton, dan sungai 2.091,4 ton, dan produksi perikanan rawa mencapai 5.919,30 ton.

Potensi Pertambangan

Salah satu industri yang potensial pengembangannya ke depan di Sulsel adalah industri pertambangan. Produksi bahan tambang atau galian pada tahun 2004 yang banyak adalah tambang batu gamping 3.443.640,95 ton terdapat di Kabupaten Pangkep, disusul jenis tambang lainnya seperti tanah liat 709.869,28 ton di Kabupaten Pangkep, pasir nikel 73.283.138,00 kg di Kabupaten Luwu Timur, pasir 840,00 m3 di Kabupaten Bantaeng, dan marmer 11.684,82 m3 tersebar di Kabupaten Maros (1.520,04 m3) dan Pangkep (10.164,78 m3). Namun pengembangan industri tambang ini belum banyak dikembangkan karena beberapa faktor, salah satunya iklim investasi dan regulasi yang terkait dengan hutan lindung.

Potensi Pariwisata

Provinsi Sulsel termasuk salah satu daerah destinasi wisatawan mancanegara dan domestik setelah Pulau Bali karena memiliki potensi pariwisata yang cukup menjanjikan untuk itu. Obyek wisata yang mendukung Sulsel sebagai daerah tujuan wisata (DTW) di Nusantara ini, diantaranya wisata alam dan kebudayaan di Makassar, Gowa, Tana Toraja dan Bulukumba, dan wisata laut di Kabupaten Selayar, Bulukumba, dan Pangkep.

Potensi Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan

No.

Kabupaten

Obyek Wisata

1

Tana Toraja

-       Keindahan alam

-       Atraksi budaya pesta kematian aluk todolok

2

Selayar

-       Wisata Laut Taman Nasional Taka Bonerate seluas 530.765 ha

-       Benda purbakala (Jangkar dan Gong raksasa)

3

Bulukumba

-       Pemukiman Masyarakat adat Kajang ‘Ammatoa'

-       Pembuatan Perahu Tradisional ‘Phinisi'

-       Pantai Pasir Putih Bira

4

Pangkep

-       Wisata alam pegunungan kapur

-       Gua purbakala

-       Wisata bawah laut Taman Wisata Laut Kapoposang

5

Maros

-       Wisata alam pegunungan kapur

-       Kawasan Wisata Bantimurung

-       Gua purbakala

6

Makassar

-       Benteng Rootterdam

-       Benteng Somba Opu

-       Makam Raja Tallo

-       Museum Makassar

7

Gowa

-       Wisata alam Malino

-       Wisata budaya makam Sultan Hasanuddin

-       Istana raja Gowa

-       Wisata spritual makan Syehk Yusuf

Sumber: Diolah dari data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata