Versi printer-friendly

Pertanian

Produksi sub sektor tanaman pangan merupakan proksi utama bagi ketahanan pangan pada umumnya dan kesejahteraan petani pada khususnya, karena bagi mayoritas keluarga petani, ketersediaan dan keteraksesan pangan serta kebutuhan hidup penting lainnya bergantung pada apakah produksi pangannya cukup untuk konsumsi keluarga dan untuk diperjualbelikan guna memperoleh uang tunai.   Terkait dengan hal tersebut, berbagai upaya dan kecenderungan perbaikan yang diintrodusir melalui program pemnerintah dan masyarakat dalam ekstensifikasi dan intensifikasi yang tercermin dari informasi luas areal dan produksi tanaman pangan sumber karbohidrat (padi, jagung, kacang-kacangan, umbi-umbian) dan sumber protein nabati (sayur dan buah) disajikan pada bagian ini.

Menurut informasi Tabel tersebut, pada tahun 2006 terjadi peningkatan luas panen dan produksi tanaman pangan utama, kecuali pada ubi jalar.  Peningkatan luas panen dan produksi tersebut diikuti oleh peningkatan produktifitas usaha, kecuali pada kedelai.  Secara umum, kondisi ini menunjukkan terjadinya upaya ekstensifikasi pertanian tanaman pangan yang disertai dengan perbaikan metode dan teknologi pra panen.  Dengan demikian, diharapkan bahwa kecenderungan perluasan areal panen yang disertai dengan perbaikan teknologi pertanian tersebut terus berkelanjutan sehingga menyediakan bahan pangan utama yang tidak hanya cukup untuk konsumsi rumah tangga (food crops) melainkan juga bagi aktifitas perdagangan yang mendatangkan uang tunai bagi petani (cash crops).

Potensi Tanaman Bahan Makanan di Provinsi NTT

Tanaman

Pangan

Uraian

Tahun

2005

2006

Padi

Luas Panen (ha)

162,540

169,651

 

Produksi Gabah (ton)

461,008

483,279

 

Produktivitas (ton/ha)

2.84

2.85

Jagung

Luas Panen (ha)

239,588

243,049

 

Produksi (Ton)

552,439

576,433

 

Produktivitas (ton/ha)

2.31

2.37

Kedelai

Luas Panen (ha)

2,088

2,358

 

Produksi (ton)

2,188

2,398

 

Produktivitas (ton/ha)

1.05

1.02

Kacang

Luas Panen (ha)

14,374

14,597

Tanah

Produksi (ton)

14,519

15,002

 

Produktivitas (ton/ha)

1.01

1.03

Kacang

Luas Panen (ha)

20,010

20,245

Hijau

Produksi (ton)

16,696

17,535

 

Produktivitas (ton/ha)

0.83

0.87

Ubi

Luas Panen (ha)

86,464

82,804

Kayu

Produksi (ton)

891,783

868,114

 

Produktivitas (ton/ha)

10.31

10.48

Ubi

Luas Panen (ha)

12,930

14,346

Jalar

Produksi (ton)

99,748

111,164

 

Produktivitas (ton/ha)

7.71

7.75

Sumber data: Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikutura Prov. NTT, 2006

Produksi tanaman sayuran di Nusa Tenggara Timur

No.

Jenis Komoditi

Produksi (ton)

Perubahan (%)

2004

2005

1

Bawang merah

4.295

3.837

-10,66

2

Bawang putih

1.462

678

-53,63

3

Bawang daun

584

532

-8,90

4

Kentang

1.669

1.808

8,33

5

Kubis

2.140

1.594

-25,51

6

Sawi

6.395

5.064

-20,81

7

Wortel

1.337

1.817

35,90

8

Kacang merah

3.026

8.380

176,93

9

Kacang panjang

2.407

2.119

-11,97

10

Cabe

2.407

2.558

6,27

11

Tomat

3.367

2.937

-12,77

12

Terung

4.657

3.442

-26,09

13

Buncis

2.022

1.799

-11,03

14

Ketimun

3.361

3.206

-4,61

15

Labu Siam

3.566

4.585

28,58

16

Kangkung

2.926

2.940

0,48

17

Bayam

857

2.022

135,94

 

Rerata

12,14

Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTT, 2005

Tabel tersebut merangkum produksi dan perubahan produksi pada tahun 2004 dan 2005 untuk 17 jenis sayuran yang lazim diperdagangkan.  Secara agregat terjadi peningkatan produksi sebesar 12.14 persen yang disumbangkan oleh bayam, kacang merah, wortel, labu siam, cabe, kentang dan kangkung.  Sekalipun secara agregat terjadi peningkatan produksi, namun 10 dari 17 sayuran tersebut mengalami penurunan produksi, termasuk diantaranya bawang merah dan bawang putih  yang memiliki umur simpan panjang dan nilai jual tinggi dan stabil.    Diduga terjadi disinsentif usahatani bawang merah dan bawang putih karena membanjirnya komoditas sejenis yang lebih murah dari luar NTT.

Jika pada tahun 2004, lima sayuran dengan produksi tertinggi adalah sawi, terung, bawang merah, labu siam dan tomat, maka pada tahun 2005 kacang merah menduduki peringkat pertama, dan tomat keluar dari kelompok produksi tertinggi.   Perubahan demikian, selain dikontribusikan oleh iklim mikro dan teknologi yang diaplikasikan, dikontribusikan pula oleh perubahan motivasi petani menanam saat terjadi disinsentif pada sisi suplai daripada pasar sayuran.  Sebagaimana diketahui, pasar di Nusa Tenggara Timur tidak dikendalikan oleh kebijakan kuantitas dan kebijakan harga, sehingga ke depan upaya peningkatan kualitas produksi serta pendorongan peningkatan skala usaha ke arah yang lebih ekonomis perlu implementasikan agar komoditas sayuran lokal dapat berdayasaing di tengah gempuran komoditas sejenis dari luar Provinsi.

Selain sayuran, buah-buahan merupakan penyumbang utama protein nabati serta mineral-mineral yang penting kesegaran dan kesehatan tubuh.

Produksi Tanaman Buah-Buahan di NTT, 2004-2005

No

Jenis Komoditi

Produksi (ton)

Perubahan (%)

2004

2005

1

Advokat

26651

39566

48.46

2

Mangga

36604

57170

56.19

3

Rambutan

582

775

33.16

4

Jeruk

19899

32583

63.74

5

Jambi Biji

4668

6845

46.64

6

Sirsak

3932

4411

12.18

7

Pepaya

17639

22338

26.64

8

Pisang

41651

55677

33.68

9

Nenas

608

836

37.50

10

Salak

311

447

43.73

11

Nangka

9347

12398

32.64

Rerata

39.50

Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTT, 2006

Secara agregat, sebelas komoditi buah-buahan yang dipantau memperlihatkan kecenderungan produksi yang positif dimana rerata peningkatan produksi dari tahun 2004 ke tahun 2005 adalah 39.50 persen.  Jika ditilik satu per satu, peningkatan produksi terendah adalah pada sirsak (12.18 persen), sedangkan peningkatan produksi tertinggi adalah pada jeruk (63.74 persen).  Kondisi ini merupakan indikasi membaiknya produksi buah-buahan di Nusa Tenggara Timur, dan dengan demikian diharapkan probabilitas terjadinya kecukupan protein dan mineral yang dikontribusikan oleh buah-buah lokal meningkat.

Selain sebelas komoditas tersebut, NTT sedang menggalakkan pengembangan apel jenis Rome beauty di Kabupaten Timor Tengah Selatan.  Pengembangan apel tersebut diharapkan akan mengembalikan dayaproduksi apel sehingga suplai apel yang selama dua dasawarsa ini dimonopoli oleh apel luar Nusa Tenggara Timur dapat disubsitusi secara sistematis dengan produk lokal, dan memberikan kesempatan bagi petani lokal untuk memperoleh pendapatan tunai yang stabil dan memadai.

Kehutanan

Luas hutan di NTT adalah 1,808,990 hektar atau setara 30.34 persen luas daratan.  Luasan demikian sudah merupakan dampak deforestasi dimana eksploitasi hasil hutan dalam bentuk kayu untuk keperluan perumahan berpacu terlalu cepat dibandingkan upaya-upaya reboisasi dan rehabilitasi hutan.

Luas Hutan menurut Jenis Penggunaan Lahannya

No

Penggunaan Lahan

Luas (Ha)

Proporsi (%)

1

Kawasan Suaka Alam

350.330

19,37

 

  • Cagar Alam

66.650

3,68

 

  • Suaka Margasatwa

18.920

1,05

 

  • Taman Wisata Alam (darat, perairan)

159,155

8.80

 

  • Taman Nasional

59,060

3.26

 

  • Hutan Bakau

40,695

2.25

 

  • Taman Buru

5,850

0.32

2

Hutan Lindung

731,220

40.42

3

Hutan Produksi Terbatas

197,250

10.90

4

Hutan Produksi Tetap

428,360

23.68

5

Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi

101,830

5.63

Jumlah

1,808,990

100.00

Sumber data: Dinas Kehutanan Prov. NTT, 2003

Berdasarkan Tabel tersebut, diketahui bahwa luasan hutan produksi terbatas.  Terbatasnya luasan hutan produksi tersebut mengakibatkan rendahnya daya dukung hutan bagi perekonomian.  .

Produksi Hasil Hutan

No

Jenis Hasil Hutan

Satuan

Produksi

A

Kayu-kayuan, arang dan pohon

1

Kayu rimba persegi

m3

2.670,50

2

Kayu rimba bulat

m3

68.143,00

3

Kayu jati persegi

m3

15.333,15

4

Kayu jati bulat

m3

364,12

5

Kayu merah olahan

m3

11,86

6

Mahoni olahan

m3

98,14

Total

m3

86.620,77

B

Non Kayu, kulit dan daun

1

Asam isi

Ton

8.258.045

2

Asam biji

Ton

11.938.294

3

Kemiri isi

Ton

9,503,476

4

Kemiri biji

Ton

73,640

5

Pinang iris

Kg

10,942

6

Lilin

Kg

240

7

Kulit kayu manis

Kg

6,760

8

Rotan

Kg

8,050

9

Serbuk cendana

Kg

187,692

10

Minyak cendana

liter

13,379

11

Ampas cendana

Kg

214,500

12

Gaharu

Kg

408

13

Kayu api

Kg

35,323

14

Kemedangan

Kg

1,045

15

Minyak atsiri

Kg

400

16

Gubal kayu putih

Kg

35,323

17

Seedlak

Kg

3,217,294

Total

Ton (setara)

29,777,185

C

Perburuan : Madu

liter

23,604

Sumber : Dinas Kehutanan Prop. NTT, 2006

Menurut Tabel diatas, ekploitasi hasil hutan kayuan, arang dan pohon mencapai 86.620,77 meter kubik, hasil hutan non kayu, kulit dan daun mencapai 29.777 ,185 Ton, dan hasil perburuan (madu) 23.604 liter.  Di tengah menurunnya proporsi hutan terhadap total lahan, diperlukan kebijakan pembatasan produksi (kuota) hasil hutan kayuan.  Dengan demikian, untuk sementara waktu sampai luasan hutan meningkat signifikan, kebutuhan kayu untuk perumahan dan meubelair di Nusa Tenggara Timur dapat dipenuhi dengan kayu dari Sulawesi dan Kalimantan.   Perekonomian kehutanan sebaiknya terus diarahkan kepada peningkatan hasil hutan non kayu     dimana   insentif melalui kredit murah dan pembebasan pajak perlu dipertimbangkan untuk diberlakukan guna mendorong aktor ekonomi kehutanan mengembangkan usaha-usaha demikian.

Ke depan, upaya pelestarian, rehabilitasi, dan perluasan (ekstensifikasi) perlu terus diupayakan guna menyediakan ruang bagi pemanfaatan hutan baik kayu maupun non kayu dan perburuan.  Kecuali itu, perubahan paradigma dari eksploitasi hasil hutan kayu ke hasil hutan non-kayu perlu diupayakan melalui sistem insentif/disinsentif mikro agar fungsi hutan sebagai kantong air terkait ketersediaan air minum maupun air untuk pertanian dapat terus diperbaiki

Kelautan dan Perikanan

Perkembangan Kinerja Perikanan Laut dan Darat  NTT

Tahun 2005- 2006

No

Deskripsi

2005

2006

Perubahan (%)

A

PERIKANAN LAUT

1

Jumlah tangkapan (ton)

124,873

15,105

-87,90

2

Jumlah Kapal Penangkap Ikan (unit)

29,709

29,709

0,00

3

Jumlah Rumah Tangga Perikanan (KK)

36,187

36,187

0,00

4

Jumlah Tempat Pelelangan Ikan (unit)

8

8

0,00

B

PERIKANAN DARAT

1

Luas Tambak (Ha)

1,586

1,369

-13,69

2

Luas Kolam (Ha)

716

115

-83,95

3

Produksi Perikanan  (kg)

272,495

190,994

-29,91

4

Jumlah Rumah Tangga Perikanan (KK)

16,297

15,119

-7,23

C

PERUSAHAAN

1

Pengalengan Ikan (unit)

0

0

-

2

Perusahaan PengolahanPerikanan (unit)

156

156

0,00

3

Pembenihan (Hatchery) (unit)

19

0

-100,00

4

Ekspor Hasil Perikanan (Ton)

6,834

2,820

-58,73




Peternakan

Sub sektor peternakan merupakan penyumbang protein hewani untuk kebutuhan masyarakat lokal maupun untuk kebutuhan masyarakat di luar Nusa Tenggara Timur

Perkembangan Populasi Ternak  di NTT

Tahun 2005-2006

No

Jenis Ternak

Populasi (ekor)

Perubahan (%)

2005

2006

1

Sapi

533,710

544,134

1,95

2

Kerbau

139,592

141,236

1,18

3

Kuda

97,952

`99,513

1,59

4

Kambing

479,883

498,348

3,85

5

Domba

571,150

570,805

-0,06

6

Babi

1,319,237

1,363,761

3,37

7

Unggas

9,837,242

9,957,683

1,22

Rerata

1,87

Sumber: : Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2006 (diolah).

Tabel diatas menginformasikan bahwa secara agregat, tujuh ternak yang dipantau statistiknya menunjukkan perkembangan populasi netto sebesar 1,87 persen.  Kenaikan tertinggi disumbangkan oleh kambing (3,85 persen) dan babi (3,37 persen), sedangkan pertumbuhan negatif disumbangkan oleh domba.  Jika dikaitkan dengan perkembangan pengeluaran ternak (Tabel 17), terlihat bahwa perdagangan antar pulau sapi sebagai ternak niaga utama mengalami penurunan sebesar 19,47 persen, sekalipun secara agregat pengantarpulauan ternak besar mengalami pertumbuhan sebesar 7,94 persen.

Perkembangan Pengeluaran dan Pemotogan Ternak

di Provinsi NTT tahun 2005-2006

No

Uraian

Kuantitas (ekor)

Perubahan (%)

2005

2006

A

Pengeluaran Ternak

1

Sapi

48,519

39,070

-19,47

2

Kerbau

7,951

10,000

25,77

 

3

Kuda

5,105

6,000

17,53

 

 

Rerata

 

 

7,94

 

B

Pemotongan Ternak

 

1

Sapi

48,834

49,652

1,68

 

2

Kerbau

7,172

7,287

1,60

 

3

Kuda

3,448

3,502

1,57

 

4

Kambing

172,878

179,036

3,56

 

5

Domba

21,399

21,532

0,62

 

6

Babi

575,105

592,820

3,08

 

7

Unggas

15,063,345

15,235,811

1,14

 

 

Rerata

 

 

1,89

Sumber :  Dinas Peternakan Provinsi NTT,  2005 dan 2006 (diolah)

Akan halnya pemotongan ternak, secara agregat terjadi kenaikan sebesar 1,89 persen yang diharapkan berdampak kepada perbaikan asupan protein masyarakat NTT.  Jika dibandingkan antara pengantarpulauan dan pemotongan, terlihat bahwa pemotongan sapi mengalami lonjakan yang lebih besar daripada pengantarpualauannya, hal mana menunjukkan daya serap daging sapi untuk pasar lokal baik untuk konsumsi rumah tangga maupun untuk industri (daging sei, abon, roti isi daging) mengalami peningkatan.  Namun demikian, penting juga untuk melihat daya saing sapi lokal di pasar nasional yang dibanjiri oleh sapi lokal dari Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi serta sapi dan daging sapi impor dari Australia dan Amerika Serikat.

Perkiraan keandalan populasi ternak besar (Tabel 18) memperlihatkan bahwa pemotongan dan pengantarpulauan ternak sapi, kerbau dan kuda mengambil 12,60 sampai 12,70 persen dari proporsi populasi akhir tahun 2005 dan 2006.  Ini berarti bahwa jika upaya perluasan usaha ternak besar tidak dikelola dengan bijaksana, perniagaannya hanya akan bertahan sekita 8 sampai 10 tahun, dan setelah itu besaran populasi tidak akan mencukupi kebutuhan konsumsi lokal maupun antarpulau.

Proporsi Pemotongan dan Pengantarpulauan ternak terhadap

Populasi Nettonya

No

Jenis Ternak

Persentase terhadap Populasi Akhir 2005

Persentase terhadap Populasi Akhir 2006

Potong

Antar-pulau

Potong + Antar Pulau

Potong

Antar-pulau

Potong +Antar Pulau

1

Sapi

9,15

9,09

18,24

9,12

7,18

 

16,31

 

2

Kerbau

5,14

5,70

10,83

5,16

7,08

 

12,24

 

3

Kuda

3,52

5,21

8,73

3,52

6,03

 

9,55

 

 

Rerata

 

 

12,60

 

 

 

12,70

 

Sumber :  Dinas Peternakan Provinsi NTT,  2005 dan 2006 (diolah)

Perkebunan

Menurut informasi Tabel tersebut, sub sektor perkebunan mengalami peningkatan baik dari aspek luas tanaman produktif maupun dari produksinya.  Dalam kurun waktu 2004-2005, secara agregat terjadi pertambahan luas areal tanaman produktif sebesar 11.94 persen, dan pertambahan produksi sebesar 9.97 persen.   Namun demikian, data menunjukkan bahwa terjadi sedikit penurunan luas panen untuk tanaman kopi, asam dan lontar; tetapi untuk kopi dan asam tidak diikuti dengan penurunan produksi.  Penurunan produksi justru terjadi pada tanaman lain yakni kapuk dan tembakau.  Ke depan, strategi penciptaan nilai tambah bagi hasil perkebunan perlu diupayakan secara integral sehingga mampu menghidupkan industri pangan dan industri kimia baik pada skala rumah tangga maupun pada skala kecil dan menengah.

Perkembangan Luasan Areal Tanaman Produktif dan Produksinya di Nusa Tenggara Timur

No

Jenis Komoditi

Areal Tanaman Produktif (Ha)

Produksi (Ton)

Perubahan (%)

2004

2005

2004

2005

Ha

Ton

1

Kelapa

90,283

94,970

53,047

58,973

5,19

11,17

 

2

Jambu Mente

49,171

54,720

27,656

29,242

11,29

5,73

3

Kopi

35,428

35,053

16,358

20,125

-1,06

23,03

 

4

Kakao

19,074

20,015

13,963

15,668

4,94

12,21

 

5

Kemiri

29,506

32,399

14,528

15,518

9,81

6,81

 

6

Kapuk

7,449

7,886

1,968

1,947

5,86

-1,09

 

7

Cengkeh

4,329

4,692

1,021

1,022

8,38

0,12

8

Pinang

19,478

20,666

6,223

8,555

6,10

37,47

 

9

Vanili

1,413

1,449

647

697

2,52

7,75

 

10

Lada

158

214

41

44

35,51

7,49

 

11

Asam

1,793

1,793

1,755

1,755

-0,03

0,02

12

Pala

228

237

67

68

3,85

1,31

 

13

Tem-bakau

260

484

47

47

86,15

-1,06

14

Sirih

1,147

1,203

466

671

4,89

43,99

 

15

Lontar

6,112

5,851

9,907

9,377

-4,27

-5,35

 

 

Rerata

 

 

 

 

11,94

9,97

Sumber Data:   Dinas Perkebunan Provinsi NTT tahun 2005

Pengembangan tanaman perkebunan di Nusa Tenggara Timur perlu terus diupayakan terkait dengan masih besarnya luasan lahan yang belum diberdayagunakan dan masih tersedianya pasar nasional bagi produk hasil olahannya.

Pertambangan dan Energi

Sub sektor pertambangan dan penggalian belumlah menjadi penyumbang dominan dalam pendapatan regional karena sejauh ini didominasi oleh komoditas bernilai rendah yakni batu karang, sirtu,pasir, batu pecah, batu gelondongan, batu warna dan batu kapur untuk kebutuhan konstruksi lokal.  Sekalipun demikian, potensi perkembangannya cukup baik dengan pertumbuhan 2,79 persen pada tahun 2005.  Selain deposit bernilai rendah,  terdapat pula eksplorasi deposit benilai tinggi yang memasuki tahap pertumbuhan meningkat seperti dieksplorasinya panas bumi untuk pembangkit energi listrik di Flores, penambangan marmer di Timor dan penambangan biji besi di Sumba.  BPS memperkirakan bahwa total ekspor NTT untuk batuan dan biji besi adalah sekitar 43 ribu ton dengan nilai ekonomi 1,15 juta dolar Amerika.

Eksplorasi panas bumi untuk pembangkit energi listrik telah sampai pada tahapan implementasi, sehingga diyakini akan meningkatkan daya dorong sub sektor pertambangan terhadap peningkatan energi dan listrik.  Sementara itu, kendala yang dihadapi oleh usaha penambangan deposit marmer diantaranya adalah tingginya investasi dan risikonya serta lemahnya diplomasi sosial ekonomi antara masyarakat adat,  pemerintah dan perusahaan penambang yang mengakibatkan berhentikannya dua buah tambang marmer di daratan Timor.  Untuk penambangan biji besi di Sumba, kendala yang dihadapi adalah rendahnya skala usaha yang diterapkan sehingga tidak mencapai skala yang ekonomis yang handal bagi keberlabaan usaha.

Potensi Pengembangan Daerah

Berikut ini gambaran umum tentang sebaran potensi dan peluang usaha yang masih layak untuk dikembangkan berdasarkan komoditi yang ada yaitu :

  1. Sektor Perkebunan.
  • Tanaman Kelapa Luas lahan yang tersedia adalah 154.232,37 Ha : Luas Lahan yang belum diusahakan (disiapkan untukpihak investor adalah 50.386,67 Ha) untuk pengembangan dan tersedia lokasi di 16 Kabupaten / Kota se NTT, dengan dukungan sarana dan prasarana penunjang yang memadai. Tanah merupakan milik rakyat.
  • Tanaman Jambu Mente

Luas lahan potensi sebesar 134.997,27 Ha : luas lahan yang belum diusahakan / dikembangkan oleh investor sebesar Rp. 73.821,37 Ha dengan lokasi tersebar di 16 Kabupaten / kota se- NTT dengan dukungan sarana dan prasarana penunjang yang memadai, status tanah milik rakyat.

  • Tanaman Kopi.

Luas lahan untuk pengembangan tanaman kopi di NTT seluas 64.300,21 Ha, sedangkan lahan yang belum diusahakan atau yang dipersiapkan kepada pihak investor seluas Rp. 23.804,37 Ha dan tersebar di Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Ngada, Sumba Barat dan Kabupaten Ende. Sarana dan prasarana cukup tersedia, status tanah milik rakyat.

  • Tanaman Kakao

Luas lahan tersedia seluas 37.883,02 Ha, sedangkan lahan yang masih tersedia bagi pengembangan tanaman kakao seluas 15.280,57 Ha, tersedia di Kabupaten Kupang, Belu, Ngada, Manggarai, Sumba Barat dan Flores Timur, dengandukungan sarana sampai pada desa-desa.

  • Tanaman Kemiri

Lahan yang terdiri bagi pengembangan tanaman kemiri seluas 74.972,92 Ha sedangkan lahan yang belum diusahakan/tersedia untuk investor 39.936,23 Ha dan tersedia 16 Kabupaten / Kota se-NTT . Sarana dan prasarana penunjang cukup tersedia sampai ke desa-desa, status tanah milik rakyat.

  • Tanaman Cengkeh

Lahan yang tersedia bagi pengembangan tanaman cengkeh seluas 11.579,81 Ha, sedangkan lahan yang belum diusahakan/disiapkan kepada investor seluas 5.105,35 Ha lokasi tersedia di Kabupaten Ngada, Manggarai, Ende, Sikka.

  • Perkebunan Vanili

Lahan yang tersedia untuk pengembangan tanaman vanili adalah 4.239 Ha, tanaman yang belum menghasilkan seluas 2.473,72 Ha, sedangkan status tanah adalah milik masyarakat dan tersebar di Kabupaten Ngada, Sikka, Sumba Barat dan Kupang.

  • Tanaman Jarak

Lahan yang tersedia adalah 3.424 lahan / lokasi yang belum diusahakan adalah 119,20 Ha status kepemilikan tanah adalah tanah masyarakat dan tersebar di 16 Kabupaten/Kota se NTT

  1. Sektor Peternakan.

Sejarah telah menunjukkan bahwa Nusa Tenggara Timur merupakan daerah yang cocok untuk pengembangan ternak besar (sapi,kerbau dan kuda, kambing serta babi). Lahan masih cukup tersedia di Kabupaten TTS, Manggarai, Ngada, TTU, Sumba Barat, Sumba Timur dan Kabupaten Kupang. Status tanah adalah tanah milik masyarakat.

  1. Sektor Kehutanan.

Salah satu potensi kehutanan yang sedang dikembangkan di Nusa Tenggara Timur adalah Kutu Lak, Kutu Lak merupakan potensi komoditi utama provinsi NTT yang sekarang ini terus berkembang dan tersebar di Kabupaten Kupang, Alor, Sumba Timur, Sumba Barat, TTS, Flores Timur, Ngada dan Rote Ndao dengan status kepemilikan tanah adalah milik rakyat.

  1. Sektor Pertanian Tanaman Pangan
  • Jagung : Sentra produksi di Kabupaten Sumba Barat, Timor Tengah Selatan dan Sikka.
  • Ubi Kayu : Tersebar diseluruh kabupaten se Nusa Tenggara Timur
  • Ubi Jalar : Tersebar diseluruh kabupaten se Nusa Tenggara Timur
  • Kacang Tanah : Tersebar diseluruh kabupaten se Nusa Tenggara Timur
  • Kacang Kedelai : Tersebar di Pulau Sumba dan Pulau Flores
  • Kacang Hijau : Kabupaten Belu, Kabupaten Manggarai dan tersebar di pulau Sumba
  1. Perikanan dan Kelautan

Potensi perikanan dan kelautan tersebar di diseluruh perairan Nusa Tenggara Timur, adapun potensi-potensi tersebut adalah :

  • Ikan Tuna, Cakalang
  • Ikan Kerapu
  • Teripang
  • Nener
  • Rumput laut
  • Mutiara