Region Papua
Papua atau juga dikenal dengan “daerah kepala burung” berdasarkan bentuk pulaunya, adalah wilayah yang terletak paling Timur dari wilayah Indonesia. Papua adalah provinsi terluas di Indonesia dimana luas wilayahnya mencapai 21,9% dari total seluruh wilayah Indonesia. Selain pulau utama Papua yang berbentuk kepala burung, Papua juga mempunyai banyak pulau lainnya seperti: pulau Biak, Numfor, Yapen, Mapia di sebelah Utara; pulau Salawati, Batantan, Gag, Waigeo dan Yefman di sebelah Barat; serta pulau Kalepon, Komoran, Adi, Dolak dan Panjang di sebelah Selatan.
Pemberlakukan Undang-Undang No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua merupakan peluang untuk secara terus meningkatkan kinerjanya dalam upaya pembangunan. Pemerintah Pusat melakukan berbagai intervensi kepada Pemerintah Daerah di papua untuk meningkatkan kapasitasnya dalam mengarahkan prioritas pembangunan beberapa sektor penting, seperti kesehatan, pendidikan, dan pengembangan ekonomi regional.
Dengan 80% lahan yang belum dihuni dan dioleh, Papua merupakan surga keanekaragaman hayati yang tersisa di bumi saat ini. Seluas sekitar 22 juta hektar hutan primer masih bertahan di Papua. Berada dalam wilayah penyebaran satwa australiasia, Papua juga kaya akan flora dan fauna endemik. Namun penebangan liar dan rencana proyek berskala besar mejadi polemik berkepanjangan dalam upaya mempertahankan kekayaan keanekaragaman hayati Papua yang penting bagi masyarakat lokal namun dan global.
Bertolak belakang dengan wilayahnya yang sangat luas, jumlah penduduk Papua tergolong sangat sedikit, yakni sekitar 5 jiwa per km2. Penduduk asli Papua terdiri dari setidaknya 250 kelompok etnis yang bermukim secara berkelompok dan memiliki tradisi dan bahasa sendiri.
Tidak jauh berbeda dengan wilayah lain di Kawasan Timur Indonesia, penduduk Papua juga bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan sebagai sumber pendapatan dan mata pencaharian mereka, khususnya pertanian tanaman pangan dan perkebunan. Komoditas pertanian dan perkebunan di Papua adalah kakao, kelapa sawit, sagu, jagung, kedelai, padi dan ubi-ubian. Sumberdaya perikanan Papua juga sangat berlimpah. Industri hasil laut Papua hampir seluruhnya berorientasi ekspor, khususnya ikan tuna, kepiting, ketimun lau, mutiara, dan ikan hias.
Dalam sektor pertambangan dan energi, Papua memiliki cadangan sumberdaya tambang yang sangat besar. Hasil tambang andalan Papua adalah emas, gas alam, tembaga, dan minyak. Hingga saat ini, eksplorasi dan eksploitasi pertambangan di Papua dikerjakan oleh perusahaan asing dan hasilnya ditujukan untuk ekspor. Belum adanya industri pengolahan bahan tambang di Papua menyebabkan Papua belum dapat menikmati keuntungan optimal dari ekspor bahan tambangnya. Sebaliknya, kurangnya infrastruktur yang menunjang industri pertambangan di Papua, menyebabkan para investor berpikir panjang untuk membuka industri pengolah di wilayah ini karena harus mengeluarkan biaya investasi yang cukup tinggi. Akibatnya pertumbuhan ekonomi dan tentu saja kesejahteraan masyarakat di Papua menjadi tidak sebanding dengan potensi sumberdaya alam yang dimilikinya.
Selain tantangan dalam upaya meningkatkan keuntungan dari pengelolaan sumberdaya alam, Papua juga mengahadapi tantangan yang besar dalam bidang kesehatan. Hingga saat ini, jumlah kasus penderita HIV/AIDS di Papua tetap menjadi yang tertinggi di Indonesia, demikian juga dengan jumlah kematian ibu dan bayi. Hal yang memprihatinkan lainnya adalah 60% dari seluruh Puskesmas di Papua dijalankan tanpa dokter dan hanya memiliki cadangan obat-obatan yang sangat minim. Selain itu, masyarakat Papua masih belum banyak yang menyadari pentingnya masalah kesehatan. Sebagai respon atas hal ini, pemerintah daerah di Papua telah menambah alokasi anggaran belanjanya untuk bidang kesehatan disamping juga bekerja sama dengan beberapa organisasi nasional dan internasional, seperti PKBI, UNICEF, USAID dan AUSAID, untuk membantu mengatasi problema kesehatan di wilayahnya.
Menghadapi tantangan yang berat, Pemerintah terus berupaya melakukan akselerasi dan distribusi pembangunan yang adil di Papua. Pada tahun 1998 dibentuk Zona Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet Biak) yang wilayahnya meliputi kabupaten Biak Numfor, Yapen Waropen, Supiori, Nabire dan Mimika. Program ini berfokus pada sektor pariwisata dan perikanan. Namun pengembangannya mengalami penundaan karena adanya tumpang tindih kebijakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Selain Kapet Biak, prakarsa lain yang ditempuh pemerintah dalam mengupayakan pembangunan di wilayah ini adalah membentuk zona ekonomi khusus di Jayapura, Nabire, Sorong, Mimika, Merauke, Fak-Fak dan Wamena. Daerah-daerah ini diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Papua.
- 2101 reads
Send to friend
