Pendidikan Sulawesi Selatan
Tingkat Pendidikan
Gambaran kondisi pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan yang akan ditampilkan pada tingkat pendidikan ini berupa kemampuan baca tulis, tingkat partisipasi pendidikan, persentase jenjang pendidikan yang ditamatkan, rasio penduduk yang putus sekolah.
Kemampuan Baca Tulis
Secara nasional persentase penduduk yang dapat membaca huruf latin sebanyak 90,07%. Sedangkan mereka yang dapat membaca huruf lainnya sebanyak 0,87% dan yang buta huruf sebanyak 9,07%. Di perdesaan, penduduk yang buta huruf lebih banyak dibanding di perkotaan (12,16% berbanding 4,91%). Persentase penduduk yang buta huruf pada perempuan, yaitu sebesar 12,28% lebih tinggi dibanding pada laki-laki yang hanya sebesar 5,84%. Provinsi dengan persentase penduduk dengan angka buta huruf tertinggi adalah Papua yaitu sebesar 23,39%, menyusul NTB (21,31%) dan Jawa Timur (15,03%), sedangkan yang terendah adalah Provinsi Sulawesi Utara (0,99%), menyusul DKI Jakarta (1,47%) dan Maluku (2,56%).
Angka melek huruf (AMH) penduduk usia 10 tahun keatas di Sulawesi Selatan sekitar 86,39. Angka tersebut mengalami peningkatan dibanding tahun 2000 yaitu 84,53. Terjadinya penurunan angka melek huruf dari tahun 2000 yang mencapai 84,53 ke tahun 2001 dengan angka 83,55, atau turun sebanyak 2,12. Penyebabnya diduga masih merupakan pengaruh dari krisis ekonomi tahun 1998 yang pengaruhnya baru kelihatan pada tahun 2001. Tahun 2002 AMH masih stagnan di 83,55 yang sekaligus menjadi masa pemulihan keberdayaan masyarakat dari krisis, kemudian tahun berikutnya (2003) AMH 85,02 yang berarti sudah mengalami peningkatan dari tahun 2002.
Angka Melek Huruf Penduduk usia 10 Tahun Ke Atas dan Jenis Kelamin Di Sulsel Tahun 2000-2005
|
Tahun |
Laki-laki |
Perempuan |
Laki-laki + Perempuan |
|
2005 |
88,61 |
84,37 |
86,39 |
|
2004 |
88,03 |
83,55 |
85,71 |
|
2003 |
87,45 |
82,73 |
85,02 |
|
2002 |
87,75 |
80,81 |
83,55 |
|
2001 |
86,55 |
80,81 |
83,55 |
|
2000 |
88,13 |
81,27 |
84,53 |
|
Sumber: BPS Tahun 2006 |
|||
Berdasarkan jenis kelamin, selisih angka melek huruf laki-laki dan perempuan masih cukup tinggi. Perbedaan angka melek huruf menurut jenis kelamin mengalami penurunan dari tahun ke tahun dan pada tahun 2001 selisihnya turun menjadi sekitar 5,74 poin dari angka melek huruf laki-laki sekitar 86,55 dan perempuan sekitar 80,81. Kemudian pada tahun 2002 selisih angka melek huruf laki-laki dan angka melek huruf perempuan turun lagi menjadi 4,96 poin. Keadaan tersebut, dapat dijadikan sebagai indikasi bahwa semakin meningkat kesadaran akan pentingnya pendidikan tanpa melihat status jenis kelamin, meskipun disadari pula bahwa di beberapa masyarakat masih ada yang memprioritaskan anak laki-laki untuk disekolahkan dari pada anak perempuannya.
Menurut daerah kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan hasil Susenas 2005 dalam Profil Kesehatan Sulsel Tahun 2005, terlihat bahwa variasi angka melek huruf berkisar antara 73 sampai 96. Angka melek huruf tertinggi terdapat di empat kabupaten/kota yaitu Kota Palopo 96, Makassar 96, Pare-Pare 94 dan Kabupaten Luwu Utara sekitar 90. Sementara itu kabupaten yang angka melek hurufnya 73 yaitu Kabupaten Jeneponto.
Menurut jenis kelamin dan kabupaten/kota, angka melek huruf menunjukkan bahwa pada laki-laki berkisar antara 76 sampai 98 dengan angka terendah adalah Kabupaten Jeneponto (76,00) sedangkan angka tertinggi adalah Kota Palopo (97,88). Untuk angka melek huruf perempuan berkisar antara 70 sampai 95 dengan angka terendah di Kabupaten Jeneponto dan tertinggi di Kota Makassar.
Partisipasi Pendidikan
Pada tahun 2003 persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang tidak/belum pernah bersekolah sebesar 8,50%. Secara nasional, pada tahun 2003 penduduk usia 10 tahun ke atas yang masih bersekolah sebesar 19,09% yang meliputi 7,92% bersekolah di SD/MI, 5,97% di SLTP/MTs, 3,79% di SMU/SMK/MA dan 1,41% di Akademi/Universitas. Secara nasional penduduk berumur 10 tahun ke atas yang tidak/belum pernah sekolah sebagian besar tinggal di perdesaan (11,32%), dan hanya sedikit yang tinggal di perkotaan (4,07%).
Menurut jenis kelamin, terlihat penduduk perempuan yang tidak/belum pernah sekolah besarnya 2 kali lipat penduduk laki-laki (11,56% berbanding 5,43%). Secara umum Angka Partisipasi Sekolah (APS) perempuan lebih besar dibanding angka partisipasi sekolah laki-laki pada kelompok umur 7 - 12 tahun dan 13 - 15 tahun. Sementara pada kelompok umur 16 - 18 tahun, angka partisipasi sekolah laki-laki lebih tinggi dibanding angka partisipasi sekolah perempuan. Kondisi angka partisipasi sekolah penduduk usia 7 - 18 tahun menurut jenis kelamin di Indonesia dan Sulawesi Selatan dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Angka Partisipasi Sekolah Penduduk Usia 7-18 Tahun Menurut Jenis Kelamin Di Indonesia dan Sulsel Tahun 2003
|
Kelompok Umur |
Indonesia |
Sulawesi Selatan |
||||
|
Laki-Laki |
Perempuan |
Laki-Laki + Perempuan |
Laki-Laki |
Perempuan |
Laki-Laki + Perempuan |
|
|
7 - 12 |
96,04 |
96,83 |
96,42 |
90,93 |
93,97 |
92,41 |
|
13 - 15 |
80,48 |
81,58 |
81,01 |
68,21 |
71,03 |
69,56 |
|
16 - 18 |
51,27 |
50,65 |
50,97 |
43,56 |
47,23 |
45,37 |
Sumber: Indikator Kesra Sulsel Tahun 2003, BPS Prov. Sulsel 2004 & Profil Kesehatan Indonesia 2003
Apabila angka partisipasi sekolah dilihat menurut kabupaten/kota, maka masih terdapat 5 kabupaten yang angka partisipasi sekolahnya dibawah 90 pada usia SD (7-12 tahun). Kelima kabupaten tersebut yaitu Kabupaten Bulukumba (89,3), Bantaeng (82,7), Jeneponto (80,4), Tana Toraja (86,7). Selanjutnya pada usia SLTP (13-15 tahun), angka partisipasi sekolah paling rendah di Kabupaten Bantaeng sekitar 46,96 dan Jeneponto sekitar 54,17, sedangkan paling tinggi di Kota Makassar yaitu 85,29 dan Kabupaten Enrekang 84,85. Pada usia SLTA (16-18 tahun), angka partisipasi sekolah berkisar antara 24 - 69 dengan angka terendah pada Kabupaten Wajo, sedangkan angka tertinggi pada Kota Pare-pare.
Dalam Informasi Hasil-Hasil Pembangunan Provinsi Sulsel yang diterbitkan Bappeda Provinsi Sulsel Tahun 2005, dijelaskan bahwa pembangunan di bidang pendidikan meskipun telah diupayakan langkah-langkah seperti pemberian akses dalam rangka pemerataan dan perluasan kesempatan belajar, namun bila diperhatikan indikator Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) dalam setiap jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Umum (SMU) belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat bahwa APK untuk SD, SLTP dan SMU tahun 2003 masing-masing sebesar 109,07 (SD), 77,56 (SLTP), dan 48,61 SMU. Sedangkan APK Tahun 2004 mengalami penurunan yaitu 108,3 (SD), 76,23 (SLTP), dan 48,47 untuk SMU. Sementara Angka Partisipasi Murni (APM), pada tahun 2003 masing-masing sebesar 93,91 (SD), 65,95 (SLTP), dan 36,03 SMU. Sedangkan APM Tahun 2004 mengalami penurunan yaitu 93,49 (SD), 67,19 (SLTP), dan 37,36 untuk SMU. Angka tersebut diatas dapat dilihat pada tabel 27 di bawah ini.
Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Sulsel Tahun 2003-2004
|
Uraian
|
Tahun 2003 |
Tahun 2004 |
||||
|
SD |
SLTP |
SMU |
SD |
SLTP |
SMU |
|
|
APK |
109,07 |
77,56 |
48,61 |
108,3 |
76,23 |
48,47 |
|
APM |
93,91 |
65,95 |
36,03 |
93,49 |
67,19 |
37,36 |
Sumber: Informasi Hasil-Hasil Pembangunan Sulsel Tahun 2004, Bappeda Sulsel
Kemudian pada RKPD Sulsel Tahun 2007 dijelaskan bahwa APK dan APM mengalami peningkatan dari tahun 2004 ke tahun 2005, masing-masing sebesar 108,32 % dan 93,49 % meningkat menjadi 109,92% dan 92,93% untuk tahun 2005. SLTP tahun 2004 masing-masing sebesar 76,23 % dan 62,19 % dan tahun 2005 meningkat menjadi 76,32 % dan 61,42 % sedang APK dan APM untuk SM tahun 2004 48,47 % dan 37,36 % meningkat menjadi 51,86% dan 38,17% pada tahun 2005. Sedangkan untuk pemberantasan buta huruf sudah mengalami kemajuan yang signifikan yaitu pada tahun 2004 jumlah buta huruf Sulawesi Selatan mencapai 763.950 orang (10,42 %) menurun menjadi 601.736 orang (8,20 %) pada tahun 2005 atau menurun (2,22 %).
Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan
Ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki penduduk merupakan indikator pokok kualitas pendidikan formal. Semakin tinggi ijazah/STTB yang dimiliki oleh rata-rata penduduk suatu negara mencerminkan semakin tingginya taraf intelektualitas bangsa dari negara tersebut.
Di Indonesia pada tahun 2003, persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang tidak/belum memiliki ijazah/STTB sebanyak 30,37%. Sedangkan yang sudah memiliki ijazah terdiri dari Tamat SD/MI sebanyak 33,42%, tamat SLTP/MTs sebanyak 16,65%, tamat SMU/SMK sebanyak 16,17%, dan tamat Diploma I sampai dengan Universitas sebesar 3,39%.
Di Sulawesi Selatan pada tahun 2003, seperti yang tertuang dalam Profil Kesehatan Sulsel Tahun 2005, menguraikan persentase penduduk yang hanya tamat SD yaitu sekitar 28,39% dan yang tidak tamat SD sekitar 36,97%. Sedangkan yang tamat SLTA ke atas terdapat sekitar 20,28%. Apabila dibanding tahun 2000 dan 2002, maka proporsi penduduk usia 10 tahun ke atas yang tidak tamat SD mengalami penurunan dari 38,96% pada tahun 2000 turun menjadi 37,58% tahun 2002, kemudian turun lagi menjadi 36,97% tahun 2003. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk di Sulawesi Selatan semakin membaik. Selain itu, juga dapat dilihat dengan relatif stabilnya persentase penduduk yang berpendidikan SLTP ke atas baik pada tahun 2000, 2002 dan 2003 yaitu sekitar 34%.
Persentase Penduduk 10 tahun Ke Atas Menurut Jenjang Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Di Sulsel Tahun 2000, 2002, 2003 & 2005
|
TINGKAT PENDIDIKAN |
TAHUN |
|||
|
2000 |
2002 |
2003 |
2005 |
|
|
Tidak/Belum Pernah Sekolah |
14,05 |
13,87 |
13,65 |
35,19 |
|
Tidak Tamat SD |
24,91 |
23,71 |
23,32 |
|
|
SD |
26,78 |
28,05 |
28,39 |
28,14 |
|
SMTP |
14,29 |
14,26 |
14,36 |
15,10 |
|
SMTA/D2 |
17,17 |
16,77 |
16,93 |
16,80 |
|
Akademi/D3 |
0,36 |
0,83 |
0,85 |
1,59 |
|
Universitas |
2,44 |
2,51 |
2,50 |
3,18 |
|
Jumlah |
100,00 |
100,00 |
100,00 |
100,00 |
|
Sumber: Profil Kesehatan Sulsel 2005 dari Indikator Kesra Sulsel Tahun 2003, BPS Prov. Sulsel 2004 (Susenas 2000, 2002, 2003,2005) |
||||
Angka Penduduk Putus Sekolah
Sesuai Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2005 yang dipublikasi BPS Tahun 2006, menunjukkan jumlah penduduk Sulsel yang tidak bersekolah lagi hingga tahun 2005 masih lebih sebanyak dibandingkan jumlah penduduk yang menamatkan pendidikannya hingga ke tinggkat Diploma I-Universitas.
Penduduk Sulsel yang menamatkan pendidikannya ditingkat Diploma I-Universitas sebanyak 117.083 orang, sedangkan yang tidak bersekolah lagi mencapai 3.989.093 orang.
Kota Makassar merupakan daerah yang tertinggi angka penduduknya yang tamat di perguruan tinggi sebanyak 75.834 orang dan juga termasuk daerah yang paling tinggi penduduknya tidak melanjutkan pendidikannya yaitu 667.948 orang.
Infrastruktur Pendidikan
Infrastruktur pendidikan berupa bangunan sekolah, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lantjutan Tingkat Pertaman (SLTP), Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), dan Perguruan Tinggi (PT) meliputi Diploma I-Universitas. Berdasarkan BPS Tahun 2006, terlihat bahwa program pendidikan dasar menjadi sasaran utama pembangunan pendidikan di Sulawesi Selatan yang bisa dilihat dari banyak jumlah bangunan Sekolah Dasar (SD) yang tersebar di 23 kabupaten/kota.
Hingga tahun 2005 tercatat jumlah SD sebanyak 6.253 bangunan, SLTP sebanyak 950 bangunan, dan SLTA sejumlah 367 bangunan. Sementara bangunan Perguruan Tinggi (Negeri dan Swasta) lebih banyak berlokasi di Kota Makassar yaitu sekitar 60 buah.
Secara detail jumlah bangunan sekolah di Sulsel dapat dilihat pada tabel 29 di bawah ini.
Jumlah Bangunan Sekolah Mulai Dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) Di Sulawesi Selatan.
|
No. |
Kabupaten/ Kota |
SD |
SLTP |
SLTA |
|
1 |
Selayar |
137 |
27 |
7 |
|
2 |
Bulukumba |
364 |
39 |
13 |
|
3 |
Bantaeng |
132 |
15 |
4 |
|
4 |
Jeneponto |
252 |
31 |
10 |
|
5 |
Takalar |
236 |
28 |
10 |
|
6 |
Gowa |
379 |
48 |
17 |
|
7 |
Sinjai |
241 |
25 |
8 |
|
8 |
Maros |
251 |
45 |
18 |
|
9 |
Pangkep |
306 |
36 |
8 |
|
10 |
Barru |
306 |
24 |
8 |
|
11 |
Bone |
672 |
74 |
21 |
|
12 |
Soppeng |
259 |
33 |
12 |
|
13 |
Wajo |
402 |
43 |
10 |
|
14 |
Sidrap |
232 |
37 |
12 |
|
15 |
Pinrang |
315 |
38 |
12 |
|
16 |
Enrekang |
212 |
29 |
10 |
|
17 |
Luwu |
226 |
39 |
14 |
|
18 |
Tana Toraja |
381 |
88 |
24 |
|
19 |
Luwu Utara |
215 |
26 |
8 |
|
20 |
Luwu Timur |
136 |
25 |
16 |
|
21 |
Makassar |
441 |
159 |
105 |
|
22 |
Parepare |
90 |
21 |
7 |
|
23 |
Palopo |
68 |
20 |
13 |
|
Total |
6.253 |
950 |
367 |
|
|
Sumber: BPS Tahun 2006 |
||||
Akses Masyarakat Di Sektor Pendidikan
Tabel 30 di bawah ini dapat dijadikan bahan untuk melihat akses masyarakat di sektor pendidikan. Dari data BPS Provinsi Sulsel Tahun 2006 mengenai Jumlah Penduduk Yang Sekolah (SD-PT), Tidak/Belum Pernah Sekolah, Tidak Bersekolah Lagi, dan Usia Sekolah (5-24), menunjukkan bahwa masih kurang kesempatan bagi penduduk Sulsel terhadap sektor pendidikan.
Kondisi Penduduk Terhadap Sektor Pendidikan di Sulsel Tahun 2005
|
No. |
Kondisi |
Jumlah |
|
1 |
Yang Sekolah (SD-PT) |
2.069.696 |
|
2 |
Tidak Pernah Sekolah |
796.091 |
|
3 |
Tidak Bersekolah lagi |
3.989.093 |
|
Sumber: Diolah dari Data BPS Tahun 2006 |
||
Dimana jumlah penduduk yang tidak bersekolah lagi masih lebih tinggi yaitu sekitar 3.989.093 orang, kemudian ditambah penduduk yang belum pernah sekolah sebanyak 796.091 orang. Ini berarti sekitar 4.785.184 orang penduduk Sulsel (usia sekolah) yang memiliki permasalahan dalam pendidikan.
Sementara jumlah penduduk yang mampu mengenyam pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai ke tingkat Perguruan Tinggi (PT) yang hanya 2.069/696 orang. Ini masih lebih kecil dibandingkan dengan penduduk usia sekolah (5-24 tahun) sebanyak 2.989.477 orang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih ada sekitar 919.781 orang penduduk Sulsel usia sekolah yang memiliki keterbatasa akses dalam sektor pendidikan.
- 2207 reads
Send to friend
