Nusa Tenggara

Versi printer-friendly

Nusa Tenggara merupakan kelompok pulau-pulau berukuran sedang sampai kecil yang memanjang mulai dari Lombok di bagian Barat hingga Kepulauan Tanimbar di bagian Timur. Secara administratif, wilayah Nusa Tenggara dibedakan atas dua provinsi, yakni Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Provinsi Nusa Tenggara Barat terdiri dari dua pulau besar (Sumbawa dan Lombok) dan beberapa pulau kecil yang di antaranya adalah Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meni, Gili Gede, Gili Slat, Moyo Panjang dan Banta. Sedangkan Nusa Tenggara Timur terdiri dari tiga pulau besar (Flores, Sumba dan Timor) dan tidak kurang dari 500 pulau kecil, dimana sebagian besar di antaranya adalah pulau yang tidak berpenghuni.

Secara historis, pulau-pulau di Nusa Tenggara juga dikenal dengan sebutan Kepulauan Sunda Kecil - merujuk pada letaknya yang berada di sebelah Barat kepulauan Sunda atau pada bagian tengah Selatan dari kepulauan Malay. Pasca kemerdekaan Indonesia, Kepulauan Sunda Kecil ditetapkan sebagai sebuah Provini yang beribukota di Singaraja, Bali Namun pada tahun 1958, provinsi ini dipecah menjadi provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Berbeda dengan wilayah lain di Kawasan Timur Indonesia, sebagian besar lahan di Nusa Tenggara berupa padang rumput dan perdu dengan sedikit pepohonan yang disebut savana. Hutan di wilayah ini adaslah hutan monsoon semi luruh-daun yang sangat rentan terhadap kebakaran dan penebangan. Terletak di antara benua Asia, Australia dan Micronesia, Nusa Tenggara mendapat pengaruh yang besar dari daerah di sekitarnya, termasuk juga dalam hal penyebaran satwa. Jenis fauna yang umum dan endemik dijumpai di wilayah ini adalah kuda liar, kakatua tanimbar (Cacatua goffini), dan julang sumba (Rhyticeros everetti).

Sebagian besar masyarakat di Nusa Tenggara adalah petani dan nelayan. Komoditi ekspor andalan dari sektor perkebunan di Nusa Tenggara adalah kayu cendana yang eksotik dan bernilai tinggi. Daerah ini juga merupakan pengekspor komoditi pertanian dan perkebunan lainnya seperti bawang, kopi, beras, dan kacang-kacangan.
Sumberdaya alam lain yang menjadi andalan Nusa Tenggara adalah bahan tambang. Emas merupakan salah satu yang menjadi andalan sektor pertambangan di Nusa Tenggara, khususnya di provinsi Nusa Tenggara Barat.

Dalam hal budaya, masyarakat Nusa Tenggara mendapatkan banyak pengaruh dari agama-agama mayoritas di wilayahnya. Di Lombok Timur terdapat Banjar, sebuah institusi lokal di tingkat dusun yang memiliki semangat yang mempersatukan berbagai golongan, agama dan strata dalam masyarakat. Selain itu suku Sasak di NTB melaksaakan praktek Weku Telu atau Lima Waktu Sembahyang yang juga disyaratkan oleh agama Islam. Sementara kelompok etnis lain di NTB, khususnya penganut agama Hindu dan Budha, memiliki ritual budaya dan bahasa religius yang dipengaruhi oleh kedua agama tersebut. Di Nusa Tenggara Timur, pengaruh gereja terbilang sangat kuat dalam kebiasaan sehari-hari masyarakat dan dalam pemerintahan.
Pengaruh agama dan budaya dalam pemerintahan di Nusa Tenggara juga berpengaruh dalam perumusan strategi perencanaan dan praktek pembangunan di wilayah tersebut. Sebagai contoh, Banjar dalam struktur masyarakt di Lombok Timur menjadi wadah yang strategis dalam meningkatkan kapasitas masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan melalui budaya besiru atau bergotong royong.

Tidak jauh berbeda dengan wilayah lain di Kawasan Timur Indonesia, wilayah Nusa Tenggara juga menghadapi tantangan yang besar dalam pembangunan. Iklim yang relatif kering di wilayah Nusa Tenggara Timur menyebabkan seringnya wilayah ini mengalami krisis air yang berdampak buruk pada sektor kesehatan, pertanian dan perkebunan, serta tentu saja perekonomian masyarakat. Selain itu, wilayah Nusa Tenggara, khususnya Nusa Tenggara Timur mengalami krisis listrik setidaknya hingga tahun 2003. Hal-hal tersebut di atas tentu saja menjadi penghambat dalam mengoptimalkan pembangunan di wilayah ini. Walaupun demikian, oleh karena sebagian besar wilayah Nusa Tenggara merupakan pada rumput atau savana, maka sektor peternakan dan perkebunan lahan kering adalah dua sektor yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan dan menjadi titik tumpu pembangunan di wilayah Nusa Tenggara. Untuk mendukung pembangunan di wilayah Nusa Tenggara yang terdiri dari banyak pulau besar dan kecil, terdapat setidaknya 17 buah bandar udara dan 45 buah pelabuhan laut.