Geografis Sulawesi Tenggara
Luas Wilayah
Secara umum, Indonesia memiliki luas wilayah 1.860.359,67 Km2 dimana Sulawesi Tenggara memiliki luas keseluruhan Provinsi Sulawesi Tenggara mencapai 153.019 km2 atau 1,98% dari luas wilayah Indonesia. Luas Sulawesi tenggara terdiri dari luas wilayah daratan 38.140 km2 atau 3.814.000 ha atau 28% yang mencakup daratan (jazirah) Pulau Sulawesi dan untuk wilayah perairannya (laut) diperkirakan seluas 114.879 km2 atau 11.487.900 ha atau 72%.
Provinsi Sulawesi Tenggara hingga tahun 2005 terdiri atas 8 (delapan) Kabupaten dan 2 (dua) Kota dengan luas masing-masing wilayah dirincikan dalam Tabel berikut.
Luas Wilayah Sulawesi Tenggara menurut Kabupaten/Kota
|
No |
Kabupaten/Kota |
Luas Wilayah |
|
|
Km2 |
% |
||
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 |
Buton M u n a Konawe Kolaka Konawe Selatan Kota Kendari Kota Bau-Bau Wakatobi Bombana Kolaka Utara |
2,675.25 4,887.00 11,669.91 6,918.38 4,514.20 295.89 305.70 425.97 3,056.08 3,391.62 |
7.01 12.81 30.60 18.14 11.84 0.78 0.80 1.12 8.01 8.89 |
|
|
Prov. Sulawesi Tenggara |
38,140.00 |
100.00 |
Sumber : Kanwil BPN Prov. Sultra
Letak Geografis
Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Secara geografis terletak di bagian Selatan Garis Khatulistiwa, memanjang dari Utara ke Selatan di antara 3o - 6o Lintang Selatan dan membentang dari Barat ke Timur di antara 120o45' - 124o60' Bujur Timur.
Batas Wilayah
Sulawesi Tenggara merupakan provinsi yang terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi dan pulau-pulau lain di sekitarnya. Provinsi ini ber-Ibu Kota di Kota Kendari. Sebelah Utara berbatasan denganProvinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tengah. Sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Maluku di Laut Banda. Sebelah Selatan dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur di Laut Flores dan sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan di Teluk Bone.
Topografi
Kondisi topografi tanah daerah Sulawesi Tenggara umumnya memiliki permukaan yang bergunung, bergelombang berbukit-bukit. Di antara gunung dan bukit-bukit, terbentang daratan-daratan yang merupakan daerah-daerah potensial untuk pengembangan sektor pertanian.
Permukaan tanah pegunungan yang relatif rendah digunakan untuk usaha mencapai luas 1.868.860 ha. Tanah ini sebagian besar berada pada ketinggian 100 - 500 meter di atas permukaan laut dan kemiringan tanahnya mencapai 40 derajat.
Sementara dari segi geologis kondisi batuan wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara terdiri atas batuan sedimen, batuan metamorfosis dan batuan beku. Dari ketiga jenis batuan tersebut yang terluas adalah batuan sedimen seluas 2.878.790 ha (75,47%).
Dari jenis tanah, Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki 6 (enam) jenis tanah, yaitu podzolik seluas 2.394.698 ha (62,79%) dari luas tanah Sulawesi Tenggara, tanah mediteran seluas 839.078 ha (22%), tanah latosol seluas 330.182 ha (8,66%), tanah organosol seluas 111.923 ha (2,93%), jenis tanah alluvial seluas 117.830 ha (3,09%) dan tanah grumosol seluas 20.289 ha (0,53%).
Luas Wilayah Sulawesi Tenggara menurut Kondisi Tanah Tahun 2005.
|
Kondisi Tanah |
Luas |
|
|
Km2 |
% |
|
|
Topografi 1. Dataran sampai berombak 2. Tanah berbukit 3. Pegunungan relatif rendah |
13,452.75 7,654.25 17,033.00 |
35.27 20.07 44.66 |
|
Jumlah |
38,140.00 |
100.00 |
|
Geologi 1. Batuan Sedimen 2. Batuan Metamorfosis 3. Batuan Beku |
28,784.50 5,274.35 4,081.15 |
75.47 13.83 10.70 |
|
Jumlah |
38,140.00 |
100.00 |
Sumber : Kanwil BPN Prov. Sultra
Dari segi hidrologi, Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki beberapa sungai yang tersebar di empat kabupaten. Sungai-sungai tersebut pada umumnya memiliki potensi yang dapat dijadikan sebagai sumber energi untuk kebutuhan industri dan rumah tangga dan juga untuk irigasi.
Sungai besar seperti Sungai Konaweha yang terletak di Kabupaten Kendari memiliki debit air ± 200 m3/detik, dan berdiri sebuah bendungan Wawotobi yang mampu mengairi persawahan di daerah Kabupaten Kendari seluas 18.000 ha. Selain itu masih banyak sungai-sungai di daerah Provinsi Sulawesi Tenggara yang tekanan airnya berpotensi untuk pembangunan dan pengembangan irigasi seperti: Sungai Lasolo di Kabupaten Kendari, Sungai Roraya dan Sungai Sampolawa di Kabupaten Buton (Kecamatan Poleang, Rumbia dan Sampolawa), Sungai Wandasa dan Sungai Kabangka Balano di Kabupaten Muna, serta Sungai Laeya di Kabupaten Kolaka.
Kondisi lahan
Secara umum total penggunaan tanah di Provinsi Sulawesi Tenggara seluas 3.814.000 ha, dan data jenis penggunaan tanah di Sulawesi Tenggara tahun 2004 menurut kabupaten/kota dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel tersebut merinci 12 jenis penggunaan tanah yaitu tanah sawah, tanah pekarangan/tanah untuk bangunan dan halaman sekitarnya, tanah tegal/kebun, tanah ladang/huma, tanah padang rumput, tanah rawa yang tidak dapat ditanami, tanah tambak/kolam/tebat dan empang, tanah lahan yang sementara tidak diusahakan, lahan tanaman kayu-kayuan, tanah hutan negara, tanah perkebunan dan tanah lain-lain.
Data rincian penggunaan tanah tersebut yang terluas adalah hutan negara seluas 1.991.103 ha (52,20%) atau lebih dari separuh luas tanah di Provinsi Sulawesi Tenggara. Tanah perkebunan seluas 401.815 ha (10,44%), mengalami penurunan fungsi sebesar 0,10 atau sekitar 3.926 ha dibanding tahun 2003, tanah yang sementara tidak diusahakan seluas 256.733 ha (6,73%), tanah lainnya seluas 284.111 ha (6,51%), lahan tanaman kayu-kayuan sebesar 5,04%. Adapun luas lahan yang terkecil adalah tambak/kolam/tebat dan empang seluas 19.464 ha (0,51%).
Dibandingkan dengan tahun 2003 terlihat adanya konversi penggunaan tanah, antara lain; pemanfaatan lahan untuk diusahakan mengalami peningkatan sebesar 8,86%, yakni dari seluas 281.692 ha lahan sementara yang tidak diusahakan ditahun 2003 menjadi 256.733 ha ditahun 2004 dan terjadi penambahan lahan yang tidak produktif menjadi produktif yakni terlihat dari lahan padang rumput sebesar 4.989 ha (6,81%)dimana pada tahun 2003 sebesar 68.810 ha meningkat menjadi 73.499 ha pada tahun 2004.
Terjadi konversi lahan di atas menunjukkan adanya peningkatan pemanfaatan penggunaan tanah , antara lain terjadi peningkatan pemanfaatan lahan ladang dan tegal/kebun masing-masing sebesar 84.094 ha dari tahun 2003.
Iklim dan Cuaca
Musim
Keadaan musim di daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, umumnya sama seperti daerah-daerah lain di Indonesia yang mempunyai dua musim, yakni musim hujan dan musim kemarau. Musim Hujan terjadi antara bulan November dan Maret, dimana angin Barat yang bertiup dari Asia dan Samudera Pasifik banyak mengandung uap air. Musim Kemarau terjadi antara bulan Mei dan Oktober, dimana angin Timur yang bertiup dari Australia sifatnya kering dan kurang mengandung uap air.
Khusus pada bulan April, di daerah Provinsi Sulawesi Tenggara arah angin tidak menentu, demikian pula dengan curah hujan, sehingga pada bulan ini dikenal sebagai bulan/musim Pancaroba.
Curah hujan
Curah hujan di wilayah ini umumnya tidak merata, hal ini menimbulkan adanya wilayah daerah basah dan wilayah daerah semi kering. Wilayah daerah basah mempunyai curah hujan lebih dari 2.000 mm pertahun, daerah ini meliputi wilayah sebelah Utara garis Kendari-Kolaka dan bagian Utara Pulau Buton dan Pulau Wawonii. Sedangkan wilayah daerah semi kering mempunyai curah hujan kurang dari 2.000 mm pertahun, daerah ini meliputi wilayah sebelah Selatan dan Tenggara jazirah Sulawesi Tenggara.
Suhu udara
Tinggi rendahnya suhu udara pada suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh posisi dan ketinggian tempat tersebut dari permukaan laut, makin tinggi posisi suatu tempat dari permukaan laut akan semakin rendah suhu udara dan sebaliknya. Karena wilayah daratan Sulawesi tenggara mempunyai ketinggian umumnya di bawah 1.000 meter dari permukaan laut dan berada di sekitar wilayah Khatulistiwa, maka provinsi ini beriklim tropis. Suhu udara maksimum dan minimum di Kendari selama tahun 2005 dapat dilihat pada Tabel I.2.6.3.1. dan Tabel I.2.6.3.2 sedangkan data kelembaban udara, kecepatan angin dan tekanan udara di Kendari selama tahun 2005 dapat dilihat pada Tabel I.2.6.3.3 sampai dengan Tabel I.2.6.3.5. Dari tabel-tabel tersebut terlihat rata-rata kecepatan angin di Kendari selama tahun 2005 mencapai 13 m/detik, dan tekanan udara mencapai 1.010,5 millibar.
- 2490 reads
Send to friend
