Ekonomi Sulawesi Tenggara
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Sebagai akibat dari kondisi perekonomian global yang kurang menguntungkan yang mengakibatkan krisis ekonomi pada tahun 1997, maka pertumbuhan ekonomi nasional menurun drastis menjadi -13,20%, sementara pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara menurun menjadi -5,78%. Laju pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada tahun 1999 bergerak ke arah positif sebesar 2,55%. Selain itu, laju inflasi yang pada tahun sebelumnya membumbung hingga sebesar 79% telah menurun menjadi sekitar 1,99%.
Pada tahun 2000, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara menunjukkan kecenderungan pertumbuhan yang semakin mantap yakni sebesar 5,27%. Pada tahun 2001 pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara telah mencapai 5,63% dan pada tahun 2002, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara terus meningkat hingga mencapai 6,66%. Pada tahun 2003, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara telah mencapai 7,66%.
Dalam struktur perekonomian Sulawesi Tenggara, sektor pertanian masih merupakan sektor yang mempunyai peran terbesar terhadap PDRB atas dasar harga berlaku. Pada tahun 2004 terjadi sedikit peningkatan dibanding tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2003 perannya sebesar 41,03% naik menjadi 41,12% pada tahun 2004. Selain sektor pertanian, sektor yang mengalami peningkatan yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 14,67% naik menjadi 14,97%, sektor pengangkutan dan komunikasi dari 6,25% menjadi 6,56%, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dari 4,27% naik menjadi 4,61%.
Sedangkan sektor lainnya mengalami penurunan peranan namun tidak begitu berarti, antara lain sektor pertambangan dan penggalian dari 5,12% pada tahun 2003 menjadi 5,01% pada tahun 2004, sektor industri pengolahan dari 6,78% tahun 2003 menjadi 6,20% tahun 2004, sektor bangunan dari 7,22% tahun 2003 menjadi 7,00% tahun 2004 dan sektor jasa-jasa dari 13,85% tahun 2003 menjadi 13,41% tahun 2004.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dapat didefinisikan sebagai keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah tertentu dalam waktu satu tahun. Nilai PDRB mencerminkan kemajuan ekonomi suatu Daerah.
PDRB Sulawesi Tenggara berdasarkan harga berlaku pada tahun 2004 sebesar 10.267.955,37 juta rupiah, sedikit lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yaitu sebesar 8908481,22 juta rupiah. Apabila dibandingkan dengan angka PDB Nasional yang dicapai pada tahun yang sama yaitu sebesar 2.018.536,50 millyar rupiah, maka peranan PDRB Sulawesi Tenggara tahun 2004 sebesar 0,51%.
PDRB Sulawesi Tenggara menurut Lapangan Usaha atas Dasar Harga Berlaku (Jutaan Rupiah) Tahun 2001 - 2004
|
Lapangan Usaha |
2001 |
2002 |
2003 |
2004 |
|
Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Kontruksi Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa |
2,742,358.52
219,146.15
555,539.33
39,829.04 545,100.82
1,045,400.80
403,714.49
265,084.91 1,048,165.71 |
336,229.35
297,577.62
565,099.77
59,969.52 616,802.37
1,198,627.38
497,833.34
298,291.91 1,173,053.98 |
3,655,713.27
456,212.14
603,814.84
71,003.19 643,333.32
1,306,667.52
556,919.27
380,847.84 1,234,269.56 |
4,223,720.53
514,427.30
636,758.83
115,006.67 718,753.98
1,534,682.76
674,191.59
473,505.41 1,376,908.30 |
|
PDRB |
6,864,339.77 |
8,043,485.24 |
8,908,781.22 |
10,267,955.37 |
Pendapatan per kapita
Adapun pendapatan perkapita Sulawesi Tenggara pada tahun 2002 sebesar Rp. 4,19 juta dan pada tahun 2003 meningkat menjadi Rp. 4,64 juta. Upaya peningkatan pendapatan perkapita Sulawesi Tenggara senantiasa terus digalakan melalui berbagai bidang pembangunan sehingga pada tahun 2004 pendapatan perkapita Sulawesi Tenggara telah mencapai Rp. 5,25 juta.
Salah satu tolak ukur untuk mengetahui tingkat kemakmuran suatu daerah dapat dilihat dari PDRB perkapita. Data dimaksud dapat dilihat pada Tabel III.1.8 di atas.
Berdasarkan harga yang berlaku, PDRB perkapita Sulawesi Tenggara pada tahun 2001 adalah sebesar 3.778.882,34 rupiah dan tahun 2002 meningkat menjadi 4.197,338,27 rupiah atau naik 11,07%, tahun 2003 meningkat lagi menjadi 4.643.134,01 rupiah atau naik 11,27% dan pada tahun 2004 meningkat lagi menjadi 4.638.161,12 rupiah atau naik 15,02%.
Pertumbuhan pendapatan per kapita
Pertumbuhan PDRB Sulawesi Tenggara berdasarkan dalam kurun waktu 2001 - 2004, mencapai 29,53% atau rata-rata 6,68% pertahun. Pada tahun 2001 mengalami pertumbuhan sebesar 5,01%, kemudian meningkat menjadi 6,66% tahun 2002 dan terus meningkat menjadi 7,57% pada tahun 2003. Pada tahun 2004 pertumbuhan PDRB masih cukup tinggi sebesar 7,51%, namun sedikit lebih rendah dari tahun sebelumnya.
Tingginya pertumbuhan PDRB tahun 2004 ditunjang oleh seluruh sektor perekonomian yang menunjukan angka pertumbuhan positif. Sektor pertanian tumbuh sebesar 7,84%, sektor pertambangan tumbuh 0,65%, sektor industri tumbuh 1,69%, sektor listrik dan air bersih tumbuh sebesar 24,23%, sektor konstruksi tumbuh sebesar 6,92%, sektor perdagangan, hotel dan restoran tumbuh sebesar 9,03%, sektor angkutan dan komunikasi tumbuh sebesar 13,57%, sektor keuangan tumbuh sebesar 18,25% dan sektor jasa-jasa tumbuh sebesar 4,53%.
Angkatan Kerja
Menurut jenis kegiatannya, penduduk berumur 10 tahun ke atas dapat dibedakan atas 2 kelompok :
- Angkatan kerja, adalah mereka yang berumur 10 tahun keatas dan mempunyai pekerjaan, baik bekerja maupun sementara tidak bekerja karena suatu sebab, seperti pegawai yang sedang cuti, petani yang sedang menunggu panen, dan sebagainya. Disamping itu mereka yang tidak mempunyai pekerjaan tetapi sedang mencari pekerjaan juga termasuk dalam kelompok angkatan kerja.
- Bukan angkatan kerja, adalah mereka yang berumur 10 tahun keatas yang kegiatannya hanya bersekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya (kegiatan yang tidak aktif secara ekonomis)
Tenaga kerja (angkatan kerja dan bukan angkatan kerja) di Sulawesi Tenggara memiliki jumlah penduduk usia kerja pada tahun 2004 berjumlah 1.450.344 orang, kemudian meningkat menjadi 1.485.531 orang pada tahun 2005, terjadi peningkatan 0,02 %. Dari jumlah penduduk usia kerja tahun 2005 tersebut, terdapat 869.747 (58,55 %) orang merupakan angkatan kerja, dan sebanyak 615.784 orang (41,45 %) bukan angkatan kerja. Dari jumlah angkatan kerja tersebut, terdiri dari 87,06 % bekerja dan 12,94 % merupakan pencari kerja (pengangguran terbuka).
Penduduk Sulawesi Tenggara Berumur 10 Tahun keatas menurut Jenis Kegiatan 2003 - 2005
|
Jenis Kegiatan |
2003 |
2004 |
2005 |
|
I. Angkatan Kerja (a) Bekerja (b) Mencari Pekerjaan
II. Bukan Angkatan Kerja 1. Sekolah (a) Mengurus Rumah Tangga (b) Lainnya
III. Penduduk Umur 10 Tahun Keatas
IV. % Pekerja terhadap Angkatan Kerja
V. % Angkatan Kerja terhadap Penduduk Usia 10 Tahun ke atas (TPAK) |
873,841 791,420 82,421
566.317 289,760 221,808 54,759
1,140,158
90.57
60.68 |
870,829 767,193 103,636
579,515 292,090 236,976 50,549
1,450,344
88.10
60.04 |
869,747 757,223 112,524
615,784 311,662 247,377 56,745
1,485,531
87.06
58.55 |
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional 2005
Penduduk Sulawesi Tenggara Berumur 10 Tahun keatas menurut Jenis Kegiatan dan Jenis Kelamin, tahun 2005
|
Jenis Kegiatan |
Laki - Laki |
Perempuan |
Jumlah |
|
I. Angkatan Kerja (a) Bekerja (b) Mencari Pekerjaan
II. Bukan Angkatan Kerja 2. Sekolah (a) Mengurus Rumah Tangga (b) Lainnya
III. Penduduk Umur 10 Tahun Keatas
IV. % Pekerja terhadap Angkatan Kerja
V. % Angkatan Kerja terhadap Penduduk Usia 10 Tahun ke atas (TPAK) |
544,837 505,880 38,957
189,217 156,797 5,711 26,709
734,054
92.85
74.22 |
324,910 251,343 73,567
426,567 154,865 241,666 30,036
751,477
77,36
43,24 |
869,747 757,223 112,524
615,784 311,662 247,377 56,745
1,485,531
87.06
58.55 |
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional 2005
Angka Pencari kerja
Angka pencari kerja di Sulawesi Tenggara pada tahun 2004 berjumlah 103.636 orang orang atau 11,90 % dari total angkatan kerja yang berjumlah 870.829 orang. Pada tahun 2005 mengalami peningkatan yaitu jumlah angkatan kerja berjumlah 112.524 orang (12,94 %) dari jumlah angkatan kerja 869,747 orang.
Penduduk Sulawesi Tenggara Berumur 10 Tahun keatas Yang Mencari Pekerjaan menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin, tahun 2005.
|
Jenis Kegiatan |
Laki - Laki |
Perempuan |
Jumlah (L + P) |
|
1. Tidak/Belum Pernah Sekolah 2. Tidak/Belum Tamat SD 3. Tamat Sekolah Dasar 4. Tamat SMTP 5. Tamat SMTA Umum 6. Tamat SMTA Kejuruan 7. Diploma I/II 8. Akademi/Diploma III 9. Universitas |
978 5,678 8,683 7,788 11,517 2,335 210 293 1,475 |
4,891 9,597 18,298 12,940 19,446 3,700 1,316 540 2,839 |
5,869 15,275 26,981 20,728 30,963 6,035 1,526 833 4,314 |
|
Total |
38,957 |
73,567 |
112,524 |
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional 2005
Penduduk Sulawesi Tenggara Berumur 10 Tahun keatas Yang Bekerja menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin, tahun 2005
|
Jenis Kegiatan |
Laki - Laki |
Perempuan |
Jumlah (L + P) |
|
1. Tidak/Belum Pernah Sekolah 2. Tidak/Belum Tamat SD 3. Tamat Sekolah Dasar 4. Tamat SMTP 5. Tamat SMTA Umum 6. Tamat SMTA Kejuruan 7. Diploma I/II 8. Akademi/Diploma III 9. Universitas |
33,441 73,511 151,781 91,751 92,287 27,798 6,951 5,387 22,937 |
41,071 43,523 74,757 35,021 27,243 9,876 8,592 2,772 8,488 |
74,512 117,034 226,538 126,772 119,530 37,674 15,543 8,159 31,461 |
|
Total |
505,880 |
251,343 |
757,223 |
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional 2005
Upah Minimum Regional
Upah Minimum Regional menurut Kabupaten/Kota dapat terlihat jelas bahwa masih banyaknya Kabupaten/Kota yang belum terdata UMR-nya. Dari tabel III.6 ini, terlihat bahwa pada tahun 2005 Kabupaten Kolaka memiliki nilai standar UMR yang lebih tinggi yakni Rp. 496.600,- jika dibandingkan dengan tahun 2002 dan 2003 yang belum terdata. Jumlah UMR ini juga merupakan jumlah standar yang tertinggi jika dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lainnya di Provinsi Sulawesi Tenggara.
Investasi
Provinsi Sulawesi Tenggara tergolong daerah yang masih menyimpan potensi sumberdaya alam yang melimpah. Potensi kelautan yang memiliki luas laut 114.879 km2 dengan potensi lestari perikanan laut sebesar 500.000 ton/tahun, namun yang baru dimanfaatkan baru sebesar 250.000 ton/tahun. Wilayah tersebut juga memiliki potensi budidaya laut.
Komoditi perkebunan yang potensial adalah kakao, jambu mete dan kelapa sawit. Potensi ini didukung oleh lahan yang masih tersedia (lahan hutan yang dapat dikonversi) dengan luas 538 km2. Luas areal kakao saat in tercatat sekitar 148 km2, sedangkan jambu mete sekitar 50 km2. Perkebunan kelapa sawit saat ini sedang dikembangkan oleh masyarakat, PTPN XIV dan pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.
Jenis bahan tambang yang potensial dan bernilai tinggi antara lain : nikel, aspal, marmer, minyak bumi dan batuan semen. Nikel yang intensif dikelola oleh PT. Antam, terdapat di Pomalaa, kabupaten Kolaka dengan kapasitas 350.000 ton/tahun. Tambang aspal terdapat di kabupaten Buton dengan kapasitas produksi sekitar 150.000 ton/tahun. Batuan marmer terdapat di Moramo, kabupaten Konawe Selatan dan Tamborasi, kabupaten Kolaka Utara. Minyak bumi terdapat di 2 (dua) blok yaitu Kabupaten Muna dan Buton.
Potensi wisata terdiri dari wisata alam dan wisata budaya. Wisata alam yang terkenal yaitu Taman Laut Wakatobi, yang merupakan salah satu taman laut terindah di dunia. Wisata alam lain yaitu Air Terjun Moramo, di Konawe Selatan dan Danau Napabale di Kabupaten Muna, serta banyak lagi wisata alam pantai. Wisata budaya yang terkenal yaitu Keraton Buton.
Industri
Jumlah perusahaan industri besar/sedang di Sulawesi Tenggara tahun 2005 tercatat sebanyak 78 buah perusahaan yang menyerap tenaga kerja sebanyak 5.332 orang. Menurut status pekerjaannya, sebanyak 4.628 orang (86,80 %) adalah tenaga kerja produktif, sebanyak 704 orang (13,20 %) adalah tenaga kerja lainnya.
Data tentang pengeluaran perusahaan industri besar/sedang untuk tenaga kerja tahun 2005 yaitu sebesar 78.186.651 ribu rupiah yang mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2004 sebesar 124.604.655 ribu rupiah.
Perkembangan nilai output perusahaan industri besar/sedang tahun 2005 menurun sebesar 8,96 % bila dibandingkan tahun 2004, yaitu sebesar 923.930.974 ribu rupiah menjadi 841.168.267 ribu rupiah. Biaya input juga mengalami penurunan sebesar 2,11 % dari 382.988.393 ribu rupiah turun menjadi 374.905.545 ribu rupiah.
Nilai tambah perusahaan industri besar/sedang atas dasar harga pasar tahun 2005 adalah sebesar 466.262.762 ribu rupiah, yang menurun 13,80 persen dari tahun 2004 yang sebesar 540.932.581 ribu rupiah. Sedangkan nilai tambah atas dasar biaya faktor adalah sebesar 454.673.085 ribu rupiah yang turun sebesar 14,29 persen dari tahun 2004.
Jumlah perusahaan industri tahun 2005 menurut kelompok industri tercatat sebanyak 23.037 perusahaan dan menyerap tenaga kerja sebanyak 123.675 orang dan investasi sebesar 660.852.163 ribu rupiah, serta menghasilkan nilai produksi sebesar 2.761.570.205 ribu rupiah. Perusahaan tersebut terdiri dari industri besar, sedang dan kecil (menurut klasifikasi Dinas Perindag Prov. Sulawesi Tenggara). Industri tersebut terdiri dari industri kimia dasar sebanyak 1.729 buah, industri aneka sebanyak 1.657 buah, industri logam dan mesin sebanyak 1.181 buah, industri hasil pertanian dan kehutanan sebanyak 7.025 buah dan industri kecil sebanyak 11.592 buah.
Sumber biaya kesehatan di Propinsi Sulawesi Tenggara berasal dari APBN, APBD dan BLN. Untuk peride Tahun 2004 jumlah anggaran APBN yang berasal dari dana dekonsentrasi bidang kesehatan di Propinsi Sulawesi Tenggara terdiri dari 4 Proyek induk dan 17 Bagian Proyek adalah sebesar Rp. 72,902,000,000,- yang terdiri dari dua sumber yaitu Rupiah Murni (RM) sebesar Rp. 59,402,000,000,- dan Bantuan Luar Negeri (BLN) sebesar Rp.13,500,000,000,-. Anggaran ini tersebar di wilayah Kabupaten/Kota dan Propinsi
Sedangkan pada tahun 2005 total alokasi anggaran untuk menunjang pelaksanaan program pembangunan kesehatan di Sulawesi Tenggara sebesar Rp. 61.711.321.303,- yang terdiri dari Rp.45.859.931.000 (APBN rupiah murni), Rp. 8.123.224.000 (PHLN-DHS ADB), Rp. 2.374.943.000,- (LOAN-Global Fun), Rp. 425.600.000,- (LOAN-GAFI), Rp.279.269.136,- (LOAN-NLR) dan Rp 4.637.856.000,00 (APBD I).
Dari total anggaran tersebut alokasi anggaran perprogram adalah sebagai berikut :
- Program Obat dan Perbekalan Kesehatan Rp. 133.000.000,-
- Program Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) Rp. 24.758.200,-
- Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Rp. 400.000.000,-
- Program Lingkungan Sehat Rp. 350.000.000,-
- Program Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) Rp. 12.029.565.000,-
- Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Rp 5.106.942.000,-
- Program Perbaikan Gizi Masyarakat Rp. 2.635.363.000,-
- Program Sumber Daya Kesehatan Rp. 1.976.086.000,-
- Program Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan Rp. 12.210.807.000,-
- 2143 reads
Send to friend
