Ekonomi Papua

Versi printer-friendly

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Pada publikasi Papua Dalam Angka 2006  tahun dasar yang dipakai adalah tahun 2000. Angka PDRB sektoral atas dasar harga berlaku tahun 2005 mencapai Rp. 43,63 triliun lebih, Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2004 yang tercatat sebesar Rp. 24,84 triliun. Sektor pertambangan dan penggalian adalah penyumbang besar terhadap total nilai PDRB yaitu sebesar Rp. 31,24 triliun lebih, sektor pertanian sebesar Rp. 4,55 triliun dan yang paling kecil adalah sektor listrik dan air minum sebesar Rp.72,47 miliar. Kontribusi sektor pertambangan dan penggalian mencapai 71,61%, diikuti sektor pertanian 10,44% dan sektor lainnya kurang dari 5%.

Pendapatan perkapita regional provinsi Papua pada tahun 2005 Atas Dasar Harga Berlaku sebesar Rp. 20,309,364.15 dengan pertumbuhan sebesar 75,65% . Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2004 yang sebesar Rp. 11,571,859.25.

Pendapatan per kapita

Pendapatan regional perkapita provinsi Papua dari tahun ketahun mengalami peningkatan yang signifikan. Meski demikian, patut dicatat bahwa peningkatan ini juga dipengaruhi oleh berkurangnya luas wilayah dan jumlah penduduk Papua setelah mengalami pembagian wilayah dengan provinsi Papua Barat. Pada tahun 2005, pendapatan perkapita Provinsi Papua atas dasar harga berlaku mencapai 20,3 jt. Sedangkan PDRB perkapita mencapai 23,2 jt. Pertambahan angka ini hampi mencapai 100% dari tahun sebelumnya. Demikian juga dengan PDRB atas dasar harga pasar yang meningkat dari 24,8 jt pada tahun 2004 menjadi 43,6 jt pada tahun 2005.

Pendapatan perkapita atas harga dasar konstan walaupun mengalami peningkatan, namun peningkatannya tidak seperti pada Pendapatan Regional Perkapita atas dasar harga berlaku. Demikian juga dengan laju PDRB Papua. Peningkatannya tidak terlalu signifikan. Bahkan beberapa angka mengalami penurunan, seperti penerimaan pajak tidak langsung (netto) yang mengalami penurunan dari 9,8 pada tahun 2004 menjadi 8,6 pada tahun 2005. Namun, secara umum, BPS mencatat PDRB pada sektor ini mengalami peningkatan yang tajam dari angka 13 pada tahun 2004 menjadi 40 pada tahun 2005.

Laju inflasi

Laju inflasi Kumulatif yang tercatat di kota Jayapura sejak tahun 2001 cenderung tidak stabil. Pada tahun 2001, laju inflasi kumulatif kota Jayapura mencapai indeks 14. Pada tahun 2002 mencapai indeks 13,91. Namun pada tahun 2003 laju inflasi kumulatif kota Jayapura mencapai indeks 8,39. Tahun 2004 laju inflasi kumulatif tercatat 9,45 namun pada tahun 2005 tercatat 14,15. Pengaruh paling signifikan pada tahun 2001 dan 2005 terhadap laju inflasi Kota Jayapura terdapat pada sektor Transportasi dan Komunikasi. Sektor pendidikan, rekreasi dan olahraga juga memberikan pengaruh besa terhadap laju inflasi kota Jayapura pada tahun 2004 yang mencapai angka 37,36.

Angkatan Kerja

Angkatan kerja pada tahun 2005 sebanyak 942.516 orang. Angkatan kerja usia 25 - 29 tahun merupakan jumlah terbesar (139.010 orang). Sebagian besar pencari kerja ini tidak mendapatkan pendidikan formal yang mencapai 342.007 orang. Pencari kerja dengan pendidikan tertinggi SMU/sederajat sebanyak 36.631 orang sedangkan pencari kerja yang tamat pendidikan tinggi (D1-D4/Sarjana) sebanyak 33.449 orang. Jumlah pencari kerja ini terfokus di Kotamadya Jayapura (21.411), Kabupaten Jayapura (14.284) dan Kabupaten Mimika (16.953). Pencari kerja di kabupaten lainnya tidak mencapai 10.000 orang. Pencari kerja di Kabupaten Paniai merupakan angka terendah yang hanya mencapai 457 orang.

Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Termasuk Angkatan Kerja menurut Umur

Golongan Umur

2000

2001

2002

2003

2004

2005

15 - 19

93 359

75 658

77 583

103 983

122 735

92 273

20 - 24

159 957

149 180

152 975

150 433

169 006

119 358

25 - 29

196 176

193 284

198 201

181 541

189 019

139 010

30 - 34

182 876

182 202

186 837

175 213

179 656

123 990

35 - 39

161 895

179 976

184 555

180 571

185 942

146 713

40 - 44

117 114

122 684

125 805

140 842

146 110

115 941

45 - 49

82 699

102 796

105 411

104 601

109 955

94 005

50 - 54

51 833

59 174

60 680

71 714

78 932

58 714

55 - 59

28 568

26 270

26 938

35 512

36 379

28 144

60 +

31 601

21 714

22 266

25 386

25 344

24 368

Jumlah

1 106 078

1 112 938

1 141 251

1 169 796

1 243 078

942 516

Sumber : BPS Provinsi Papua (Hasil SP 2000)

Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Yang Termasuk Angkatan Kerja Menurut Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan

Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan

2003

2004

2005

1 Tidak/Belum Pernah Sekolah

350 514

-

342007

2 Tidak/Belum Tamat SD

165 324

543 080

292469

3 SD / MI / Sederajat

284 671

270 574

131773

4 SLTP / MI / Sederajat

139 813

161 854

106357

5 SMU / MA / Sederajat

132 268

160 100

1766

6 SM Kejuruan

56 931

63 544

34695

7 Diploma I/II

6 937

7 644

5778

8 Diploma III / Sarjana Muda

9 712

9 545

7458

9 D IV Keatas

23 626

26 737

20213

Sumber : BPS Provinsi Papua (Hasil SP 2000)

Pencari Kerja Yang Terdaftar Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua

Kabupaten/Kota

L

P

Jumlah

1. Merauke

5 661

2 981

8 642

2. Jayawijaya

1 365

638

2 003

3. Jayapura

7 069

7 215

14 284

4. Paniai

317

140

457

5. Puncak Jaya

3 716

1 080

4 796

6. Nabire

3 677

1 865

5 542

7. Mimika

13 232

3 721

16 953

8. Yapen Waropen

1 432

1 215

2 647

9. Biak Numfor

969

956

1 925

10. Boven Digoel

-

-

-

11. Mappi

-

-

-

12. Asmat

-

-

-

13. Yahukimo

-

-

-

14. Pegunungan Bintang

-

-

-

15. Tolikara

-

-

-

16. Sarmi

-

-

-

17. Keerom

809

731

1 540

18. Waropen

-

-

-

19. Supiori

-

-

-

20. Jayapura

11 819

9 592

21 411

TOTAL

50 066

30 134

80 200

Sumber : BPS Provinsi Papua (Hasil SP 2000)

Investasi

Jumlah proyek PMDN terus berkembang dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004 jumlah proyek yang diinvestasikan sebanyak 66 proyek dengan realisasi investasi sebesar Rp. 3.55 triliun, naik 16,78% dibanding tahun 2003 yang tercatat sebesar Rp. 3.04 triliun. Tenaga kerja yang diserap mencapai 33.216 orang, dimana sebanyak 33,097 orang adalah tenaga kerja asal Indonesia dan 119 orang tenaga kerja asing.

Jumlah proyek PMA sampai dengan akhir tahun 2004 mencapai 54 proyek dengan realisasi dana sebesar US$ 6.60 juta atau naik sebesar 2,33% dari tahun 2003 yang tercatat sebesar US$ 6,45 juta dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 16.786 orang dimana sebanyak 16,231 orang (96,69%) adalah tenaga kerja Indonesia. Bila dilihat PMA yang disetujui menurut sektor ekonomi maka sektor pertambangan memiliki investasi yang paling besar yaitu sebesar US$ 4,94 juta atau 74,76%, lalu jasa sebesar US$.1,16 miliar (17,65%).

Industri

Jumlah industri di Papua (Besar, Kecil dan Sedang) sebanyak 4.667 unit usaha dengan jumlah tenaga kerja yang diserap oleh berbagai industri ini mencapai 50.253 orang. Dari seluruh industri di Papua, industri kecil berjumlah 2.915 unit usaha sedangkan industri besar dan sedang berjumlah 60 unit usaha. Sedangkan total nilai investasi  sebesar 27,4 miliar dan nilai produksi indsutri-industri di Papua ini sebesar 1,8 miliar. Industri Besar & Menegah Agro, Hasil Hutan & Hasil Laut merupakan jenisjenis industri yang memiliki nilai investasi paling besar yang nilainya mencapai 24 miliar. Kota Jayapura dan Biak Numfor adalah kota yang memiliki unit industri paling banyak

Eksport

Nilai eksport dari provinsi Papua pada tahun 2005 mencapai 2,66 triliun rupiah. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2004 yang mencapai 1,07 triliun rupiah. Nilai eksport terbesar adalah ke negara Jepang yang mencapai total 6,03 miliar rupiah.

Volume eksport tahun 2005 mencapai  10 juta ton. Volume eksport terbesar ditujukan ke Negara Taiwan yang mencapai 1,9 juta ton.

Import

Volume import tahun 2005 sebesar 472 ribu ton. Hampir seluruh volume eksport dilakukan melalui pelabuhan Amamapare dengan nilai 69 Juta US$. Beberapa pelabuhan (laut dan udara) seperti Biak dan Jayapura tidak terlalu banyak melakukan aktivitas import.

APBD

Total nilai APBD Provinsi Papua tahun 2005 sebesar Rp. 773.874,715.000. Alokasi terbesar APBD Papua tahun 2005 diberikan kepada sektor Kesehatan yang mencapai 124 miliar dan sektor pembangunan infrastruktur melalui Dinas Pekerjaan Umum sebesar Rp. 176.689.756.000. Sektor pendidikan yang juga menjadi prioritas Otonomi Khusus hanya mendapatkan alokasi APBD sebesar Rp 62,6 miliar. Padahal jika dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), di mana pendidikan merupakan salah satu alat ukurnya, Provinsi Papua tergolong tertinggal dibanding dengan daerah-daerah lain di Indonesia, terutama di kawasan barat.  Hasil studi UNDP, BPS dan Bappenas (lihat Indonesia Human Development Report, 2004), secara nasional menempatkan IPM Papua pada posisi ke-29, atau ranking ke-2 dari belakang, hanya "mengalahkan" NTB yang berada pada ranking terakhir (30).  Ironisnya, sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam, IPM Papua justru lebih buruk dari daerah miskin seperti NTT (28) dan Sulawesi Tenggara (26). Parahnya lagi, IPM Papua "mundur empat langkah" dibanding ranking tahun 1999 (25). Melihat kondisi rendahnya IPM Papua, tampaknya bisa diterima jika dilihat dari bagaimana komitmen pemerintah provinsi Papua dalam mengalokasikan anggaran pendidikan pada APBD yang hanya mencapai 62,2 miliar.

Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK)

Dana Alokasi Umum (DAU) provinsi Papua pada tahun 2006 sebesar 810 Miliar Rupiah. Total DAU untuk seluruh Provinsi Papua, temasuk Kabupaten dan Kota di Provinsi Papua mencapai 7,2 Triliun Rupiah. Kabupaten Merauke merupakan kabupaten di Provinsi Papua yang mendapatkan DAU terbesar (534 Miliar) sedangkan Kabupaten Supiori mendapatkan alokasi terkecil, sejumlah 163,8 Miliar.

Sedangkan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk sektor-sektor pendidikan dan kesehatan di tiap Kabupaten dan Kota di Papua mencapai 148 miliar (Pendidikan) dan 151 miliar (Kesehatan). Kabupaten-kabupaten pemekaran mendapatkan alokasi DAK yang cukup besar, terutama untuk membangun sarana dan prasarana fisik kesehatan, pendidikan dan prasarana Pemerintah. Kabupaten Boven Digoel dan Kabupaten Supiori menerima alokasi DAK diatas 10 Miliar untuk sektor pendidikan dan kesehatan mengingat kedua kabupaten ini merupakan dua kabupaten yang prasarana pendidikan, kesehatan maupun infrastruktu pemerintahannya masih sangat minim.