Ekonomi NTT

Versi printer-friendly

PDRB,  Produk domestik regional bruto adalah indikator yang menggambarkan keadaan perekonomian penduduk di suatu wilayah/daerah. Ukuran yang dapat dihasilkan dari perhitungan PDRB antara lain adalah rata-rata pendapatan perkapita, struktur ekonomi dan pertumbuhan ekonomi.

PDRB atas dasar harga berlaku Provinsi Nusa Tenggara Timur terus menunjukan angka yang meningkat dari 11,4 trilyun rupiah pada tahun 2003 menjadi 12,9 trilyun rupiah pada tahun 2004 dan meningkat menjadi 14,6 trilyun rupiah pada tahun 2005. Sumbangan terbesar dalam PDRB tahun 2005 berasal dari sektor pertanian yakni sekitar 41,27% (6,0 trilyun rupiah), sedangkan sumbangan terendah bagi PDRB berasal dari sektor listrik,gas dan air bersih yakni hanya 0,43% (62,5 milyar rupiah).

Pada tahun 2005 rata-rata pendapatan per kapita penduduk NTT mencapai 3,2 juta rupiah, meningkat dari tahun sebelumnya 2,9 juta rupiah. Tercatat Kota Kupang penduduknya memiliki pendapatan perkapita terbesar yakni sekitar 7,2 juta rupiah per tahun, sedangkan pendapatan perkapita terendah adalah penduduk di Kabupaten Lembata dengan rata-rata pendapatan sekitar 1,7 juta rupiah per tahun.

Walaupun PDRB harga berlaku meningkat cukup tinggi pada tahun 2005 yakni sebesar 13,39% namun harga konstannya dalam hal ini pertumbuhan ekonomi NTT hanya tumbuh sebesar 3,10%. Kondisi ini menunjukan bahwa walaupun secara absolut rata-rata pendapatan masyarakat meningkat namun daya beli dari pendapatan tersebut menurun. (Sumber : BPS/NTT dalam angka 2006).

Pertumbuhan PAD dan PDRB Harga Konstan Tahun 2003-2005

Tahun

PAD (Rp.Juta)

Pertumbuhan

(%)

PDRB Harga Konstan (Rp.Ribu)

Pertumbuhan

(%)

2003

94.332

15,52

9.016.717

4,57

2004

123.690

31,12

9.446.770

4,77

2005

140.629

13,69

9.739.372

3,10

Rata-Rata (%)

20,11

4,12

Sumber : BPS/NTT Dalam Angka 2006

Tingkat Pendapatan

Jika dicermati laju pertumbuhan PAD NTT, maka terlihat pertumbuhan yang sangat positif sejak tahun 2003, namum jika dicermati dari  total penerimaan daerah, maka PAD NTT masih merupakan proporsi yang kecil daripada total pendapatan daerah.  Hal ini menunjukkan bahwa untuk pembiayaan pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur, masih sangat bergantung pada dana perimbangan yang diterima dari Pemerintah Pusat. Namun dengan adanya peningkatan rasio PAD terhadap APBD  pada tahun 2005 menunjukkan bahwa adanya usaha daerah untuk meningkatkan kemampuannya untuk mandiri.

Pertumbuhan PAD dari tahun ke tahun selama tahun 2003-2005 dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 20,11% demikian juga pertumbuhan PDRB harga konstan dari tahun 2003-2005 dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 4,12%. Elastisitas PAD terhadap PDRB adalah sebesar 4,88%. Artinya laju pertumbuhan PDRB sangat berpengaruh terhadap peningkatan PAD, apabila PDRB naik 1% maka PAD akan naik sebesar 4,88%.

Pendapatan Per Kapita

Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk NTT pada tahun 2005 sebesar Rp. 127.414,00, yang terbagi untuk pengeluaran makanan sebesar Rp. 87.398,- atau sekitar (68,59%) dan untuk pengeluaran bukan makanan sebesar Rp. 40.016,- (31,41%).

Rata-rata komsumsi per kapita selama seminggu penduduk NTT pada tahun 2005 untuk beras dan hasil-hasil sekitar 1.980 kg, gula pasir 1.434 ons, jagung pocelan sekitar 0,687 kg, ketela pohon sekitar 0,455 kg, kelapa sekitar 0,263 butir, gula merah sekitar 0,131 ons, dan beberapa jenis bahan makanan lainnya yang dikomsumsi selama seminggu.

Pendapatan Asli Daerah dan APBD Tahun 2003-2005

Jenis Pendapatan  (Rp. 000.000)

2003

2004

2005

Pajak

52.440,45

76.778,92

85.548,57

Retribusi

11.541,19

16.680,81

19.962,62

Bagian Laba Usaha Daerah

5.495,94

8.894,56

13.433,34

Lain-lain Pendapatan

24.854,44

21.336,07

21.684,53

Total PAD

94.332

123.690,37

140.629,07

Penerimaan Daerah

441.727,23

467.637,91

498.225,42

Sumber : BPS/NTT Dalam Angka 2006

Jika dicermati laju pertumbuhan PAD NTT, maka terlihat pertumbuhan yang sangat positif sejak tahun 2003, namum jika dicermati dari  total penerimaan daerah, maka PAD NTT masih merupakan proporsi yang kecil daripada total pendapatan daerah.  Hal ini menunjukkan bahwa untuk pembiayaan pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur, masih sangat bergantung pada dana perimbangan yang diterima dari Pemerintah Pusat. Namun dengan adanya peningkatan rasio PAD terhadap APBD  pada tahun 2005 menunjukkan bahwa adanya usaha daerah untuk meningkatkan kemampuannya untuk mandiri.

Dari tabel dapat dilihat pertumbuhan PAD dari tahun ke tahun selama tahun 2003-2005 dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 20,11% demikian juga pertumbuhan PDRB harga konstan dari tahun 2003-2005 dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 4,12%. Elastisitas PAD terhadap PDRB adalah sebesar 4,88%. Artinya laju pertumbuhan PDRB sangat berpengaruh terhadap peningkatan PAD, apabila PDRB naik 1% maka PAD akan naik sebesar 4,88%.

Jumlah Angkatan Kerja

Dari hasil Sakernas 2005 diperoleh gambaran bahwa dari 2.714.054 penduduk Provinsi NTT yang berusia 15 tahun ke atas 79,45 persen diantaranya merupakan angkatan kerja. Angkatan kerja yang melakukan aktifitas bekerja sebanyak 94,54 persen, dan sisanya 5,46 persen aktif mencari pekerjaan.

Untuk penduduk yang bekerja sebanyak 2.038.575 orang pada tahun 2005, dimana 927.675 orang (45,51%) diantaranya sebagai tenaga kerja tidak dibayar. Pekerja tidak dibayar ini 70,43 persen (653.350 orang) diantaranya adalah perempuan. Tenaga kerja  yang bekerja namun tidak dibayar ini kemungkinan besar bekerja di Sektor Pertanian karena umumnya di NTT pengolahan kebun/sawah walaupun dengan luas lahan yang kecil dikelola secara bersama-sama dalam satu rumpun keluarga dan hasilnya akan dibagi secara merata walaupun mungkin jumlahnya tidak mencukupi karena keadaan tanah dan iklimnya. Dengan demikian penambahan jumlah pekerja pada sektor pertanian sama sekali tidak meningkatkan produktivitas sektor ini malah menurunkan produktivitasnya karena jumlah tenaga kerja meningkat namun dari segi output-nya tidak meningkat sejalan dengan input-nya.

Apabila diamati menurut lapangan pekerjaan utamanya, 78,34 persen bekerja disektor pertanian, 6,19 persen disektor jasa kemasyarakatan, 5,87 persen di sektor industri pengolahan, 4,42 persen di sektor perdagangan, rumah makan dan restoran. Bekerja di sektor pertambangan dan penggalian, sektor bangunan serta sektor angkutan, pergudangan dan komunikasi masing-masing sekitar 1 - 2 persen, sementara untuk sektor-sektor lainnya kurang dari 0,5 persen.

Presentase pendidikan pekerja penduduk NTT tahun 2005, sekitar 8,55 persen adalah tidak/belum pernah sekolah, 17,21 persen tidak/belum tamat sekolah Dasar dan 44,26 persen tamat Sekolah Dasar. Dengan demikian presentase angka tenaga kerja di Provinsi NTT 70,02 persen hanya berpendidikan Sekolah dasar ke bawah. Angkatan kerja dengan pendidikan Sekolah Menengah Pertama sekitar 15,89 persen, Sekolah Menengah Tingkat Atas sekitar 11,84 persen  dan sisanya 2,59 persen berpendidikan diatas Sekolah Menengah Tingkat Atas.

Angka Pengangguran

Sesuai angka angkatan kerja pada tahun 2005 sebesar 2.156.398 atau sebesar 79,45 persen penduduk Provinsi NTT, terdiri dari Laki-laki sebesar 1.180.254 jiwa dan perempuan sebesar 976.142 jiwa.

Dari angka tersebut penduduk usia produktif yang bekerja adalah sebesar 2.038.575 orang atau 75,11 persen dan yang masih mencari pekerjaan atau belum bekerja sebesar 117.821 orang atau 4,34 persen dari prosentase angkatan kerja.

Upah Minimum Provinsi (Rp. 600.000)

APBD Provinsi NTT tahun 2007

1.             Pendapatan; Rp. 779.458.100. 000

2.             Belanja;        Rp. 948.415.194.900

Surplus/Devisit    Rp. 168.957.094.900

3.                         Pembiayaan

a. Penerimaan;   Rp.  217.257.094.900

b. Pengeluaran;   Rp.   48.300.000.000

Industri, Eksport,Import

Jumlah perusahaan usaha perdagangan yang tercatat di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT pada tahun 2005 sejumlah 22.780 yang terdiri dari pedagang besar 684, pedagang menengah 6.309 dan pedagang kecil 15.787. Perusahaan usaha sektor perdagangan sebagian besar terdapat di Kota Kupang yakni sejumlah 5.219 perusahaan atau sekitar 22,91% dari total NTT.

Neraca perdagangan luar negeri NTT  pada tahun 2005 mengalami surplus dimana nilai ekspor 17.401 US$ dan nilai impor 2.059 US$, jika dibandingakan dengan tahun 2004 maka nilai ekspor mengalami peningkatan lebih dari 90% (9.086 US$ pada tahun 2004), begitu pula nilai impor  mengalami kenaikan lebih 200% dibandingkan tahun 2004 yaitu sebesar 607 US$. (Sumber : BPS/NTT dalam angka 2006).

Produk domestik regional bruto adalah indikator yang menggambarkan keadaan perekonomian penduduk di suatu wilayah/daerah. Ukuran yang dapat dihasilkan dari perhitungan PDRB antara lain adalah rata-rata pendapatan perkapita, struktur ekonomi dan pertumbuhan ekonomi.

PDRB atas dasar harga berlaku Provinsi Nusa Tenggara Timur terus menunjukan angka yang meningkat dari 11,4 trilyun rupiah pada tahun 2003 menjadi 12,9 trilyun rupiah pada tahun 2004 dan meningkat menjadi 14,6 trilyun rupiah pada tahun 2005. Sumbangan terbesar dalam PDRB tahun 2005 berasal dari sektor pertanian yakni sekitar 41,27% (6,0 trilyun rupiah), sedangkan sumbangan terendah bagi PDRB berasal dari sektor listrik,gas dan air bersih yakni hanya 0,43% (62,5 milyar rupiah).

Pada tahun 2005 rata-rata pendapatan per kapita penduduk NTT mencapai 3,2 juta rupiah, meningkat dari tahun sebelumnya 2,9 juta rupiah. Tercatat Kota Kupang penduduknya memiliki pendapatan perkapita terbesar yakni sekitar 7,2 juta rupiah per tahun, sedangkan pendapatan perkapita terendah adalah penduduk di Kabupaten Lembata dengan rata-rata pendapatan sekitar 1,7 juta rupiah per tahun.

Walaupun PDRB harga berlaku meningkat cukup tinggi pada tahun 2005 yakni sebesar 13,39% namun harga konstannya dalam hal ini pertumbuhan ekonomi NTT hanya tumbuh sebesar 3,10%. Kondisi ini menunjukan bahwa walaupun secara absolut rata-rata pendapatan masyarakat meningkat namun daya beli dari pendapatan tersebut menurun. (Sumber : BPS/NTT dalam angka 2006).