SDA Sulawesi Utara
Pertanian
Pembangunan ekonomi pada sektor pertanian dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan petani dan meratakan pembangunan pedesaan. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan usaha-usaha seperti intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi.
Luas daratan Provinsi Sulawesi Utara adalah 1.524.651 ha di tahun 2005. luas tersebut luas tersebut terdiri dari lahan sawah 64.457 ha atau 14,25 persen dari total, dan lahan kering seluas 1.463.083 ha. Produksi padi sawah dan padi ladang naik dari 407.358 ton pada tahun 2004 menjadi 432.625 ton pada tahun 2005 dan rata-rata produksi per hektar juga naik dari 44,07 ton/ha pada tahun 2004 menjadi 45,57 ton/ha pada tahun 2005. komoditi tanaman perkebunan yang potensial di Sulawesi Utara adalah kelapa, cengkeh, pala, kopi dan coklat. Berdasarkan catatan yang diperoleh dari Dinas Perkebunan, pada tahun 2005 tercatat luas areal tanaman kelapa seluas 262.347 ha, cengkeh 70.725 ha, pala 11.330 ha, kopi 9.689 ha dan coklat 10.566 ha. Produksi tertinggi dari komoditi tersebut adalah kelapa yaitu 187.719 ha. Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan, produksi hasil hutan pada tahun 2005 yaitu berupa kayu bulat 7.555 M³ dan kayu gergajian 5.405,79 M.
Produksi Perkebunan Besar/Rakyat (Ton) Per Jenis Tanaman di Sulawesi Utara Tahun 2005
|
No |
Jenis Tanaman |
Jumlah Produksi (Ton) |
|
1 |
Kelapa |
187.719,16 |
|
2 |
Cengkih |
12.671,60 |
|
3 |
Pala |
2.946,12 |
|
4 |
Kopi |
5.929,67 |
|
5 |
Coklat |
3.143,97 |
|
6 |
Vanili |
1.164,51 |
|
7 |
Jambu Mete |
135,34 |
|
8 |
Cassiavera |
139,23 |
|
9 |
Lada |
331,25 |
|
10 |
Kemiri |
337,50 |
|
11 |
Aren |
16.834,47 |
Data BPS Provinsi Sulawesi Utara
Pertambangan
Perkembangan pembangunan di segala bidang memacu terjadinya pergeseran pada beberapa sektor terutama sektor pertambangan. Potensi pertambangan yang terdapat di provinsi Sulawesi Utara antara lain emas, minyak bumi, dan biji besi. Produksi emas yang di produksi oleh perusahaan PT Newmont di Minahasa Raya di Ratatotok telah memproduksi emas yang ditemukan pada tahun 1998 pada batuan induk sedimen Mesel. Cadangan pertambangan adalah 7,8 juta ton dengan kadar 7,3 g/t Au (Hendrik 1997) pembuangan tailing dilakukan di lembah anak sungai Mesel dan laut dengan dengan jarak 900 m lepas pantai Semenjung Ratatotok pada kedalaman 82 m. Terdapat penambangan emas tanpa izin (PETI) antara lain di daerah Talawaan, Likupangan, Ranoako dan Ratatotok.
Kehutanan
Provinsi Sulawesi Utara memiliki kawasan Hutan sesuai SK Menteri Kehutanan Nomor 451/Kpts-II/99 tanggal 17 Juni 1999 tentang Penunjukan Kawawan Hutan dan Perairan berdasarkan ploting pada peta hasil digitasi seluas 788.691,88 ha atau 51,64 persen dari luas wilayah administratif pemertintahan yang ada (1.527.216 Ha). Sesuai dengan fungsinya kawasan hutan dimaksud terbagi kedalam hutan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (HSA?KPA) seluas 310.759,74 ha (40,64 persen), Hutan Lindung (HL) seluas 175.958.33 ha (22,31 persen), Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 219.906,86 ha (26,46 persen), Hutan Produksi (HP) seluas 67.414,55 ha (8,55 persen), Hutan Produksi yang dapat dikonversi (HPK) seluas 14.643,40 ha (1,86 persen).
Luas Hutan dan Fungsinya
|
NO |
Fungsi
|
Luas |
% |
|
1 |
Berhutan |
|
|
|
A |
Hutan Primer |
48.900,53 |
17,70 |
|
B |
Hutan Sekunder |
101.961,65 |
36,91 |
|
2 |
Tidak Berhutan |
|
|
|
A |
Semak Belukar |
9.432,36 |
3,41 |
|
B |
Pertanian lahan kering campur semak |
55.636,80 |
20,14 |
|
C |
Sawah dan Pemukiman |
147.17 |
0,05 |
|
3 |
Tertutup awan (tidak teridentifikasi) |
60.186,73 |
21,79 |
Data : Dinas Kehutanan provinsi Sulawesi Utara tahun 2004
Selanjutnya secara dejure kawasan hutan yang telah ditata batas dan dikukuhkan namun sampai saat ini secara defacto dilapangan, kawasan hutan tersebut sebagian besar telah diduduki oleh masyarakat, sehingga mengakibatkan kawasan HP< HPT, maupun HL saat ini dalam keadaan rusak/kritis. Luas kawasan hutan produksi di Propinsi Sulawesi Utara seluas 276.264,24 ha yang terdiri dari Hutan Produksi Terbatas seluas 21.911,73 ha dan Hutan Produksi Tetap seluas 58.352,53 ha. Kondisi penutupan lahannya sesuai hasil penafsiran citra landsat tahun 2001 menunjukan bahwa pada umumnya telah beralih fungsi berupa lahan pertanian kering, semak belukar dan tanah kosong/terbuka. Kondisi kawasan hutan produksi berdasarkan jenis penutupan lahannya antara lain:
Pariwisata
Salah satu potensi unggulan provinsi Sulawesi Utara adalah sektor pariwisata. keunggulan tersbut dapat dilihat dari dua sisi yaitu : pertama sebagai daerah tujuan wisata, terdapat objek wisata bahari (wisata pantai, dan wisata alam bawah laut-Taman Nasioanl Bunaken), wisata alam, wisata Panorama dan wisata budaya. Kedua sebagai pintu gerbang pariwisata regional bahkan nasional, karena posisinya yang strategis sebagai inlet/outlet di kawasan timur indonesia belahan utara ke pasar pariwisata global, khususnya dikawasan Asia Pasific. Potensi-potensi unggulan ini didukung oleh sarana pendukung yang relatif memadai sepeti :
- Pintu masuk/keluar berupa : bandar Udara Internansional Sam Ratulangi Manado dan Pelabuhan Samudra Bitung
- Akses transportasi darat relatif memadai
- Sarana penunjang pariwisata, seperti hotel/penginapan, restoran, cenderamata, biro perjalanan, diving Center
Indikator kegiatan kepariwisataan di Sulawesi Utara tercermin dari jumlah wisatawan baik asing maupun nusantara. Jumlah wisatawan asing pada tahun 2003 tercatat 11.934 orang dan meningkat menjadi 16.406 orang pada tahun 2004.
Peningkatan jumlah wisata yang berkunjung ke Sulawesi Utara seiring dengan meningkatnya jumlah prasarana wisata yang tersedia seperti hotel dan akomodasi lainya. Jumlah losmen/hotel yang tidak berbintang dan akomodasi lainnya pada tahun 2004 sebanyak 112 unit yang menyediakan 2.089 kamar dan 2.916 tempat tidur. Indikator lainya dari kemajuan sektor hotel dan pariwisata adalah Tingkat Penghunian Kamar Hotel (TPK). Pada tahun 2005. TPK hotel berbintang di Sulawesi Utara tercatat 51,61 persen, naik dibandingkan tahun 2004 yang tercatat 51.46 persen. Sedangkan TPK Hotel Melati pada tahun 2004 tercatat 39,78 persen, meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 38,54 persen
Perikanan Dan Kelautan
Sulawesi Utara telah menjadikan hasil usaha perikanan dan kelautan sebagi salah satu produk unggulan untuk memacu peningkatan pendapatan asli daerah. Pembangunan sektor perikanan dan kelautan di Sulawesi Utara hingga saat ini telah memperlihatkan kemajuan yang relatif berarti. Usaha perikanan tangkap menjadi tumpuan dari sebagian besar komunitas nelayan yang menempati di wilayah pesisir Sulawesi Utara, haruslah dikembangkan dari usaha yang sifatnya tradisional menjadi usaha yang lebih profesional. Hal ini tidak saja dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan hidup nelayan tetapi juga mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengisi kas daerah. Produksi perikanan Sulawesi Utara pada tahun 2000 mencapai 193.735,8 ton. Dari capaian produksi 32,11 persen di ekspor dalam bentuk produksi perikanan hidup, segar, beku, maupun olehan seperti ikan kaleng dan ikan kayu. Volume ekspor naik dari 47.173.439,78 kg dengan nilai US$ 57.293.868,22 menjadi 68.504.300,38 kg dengan nilai 62.722.558,72. tahun 2001 turun 183.861.6 ton, tahun 2002 tercatat 196.239.0 ton, tahun 2003 tercatat 188.035,9 ton sedangkan untuk tahun 2004 produksi perikanan turun 199.747,8
- 1788 reads
Send to friend
