Oase Menjemur Matahari
Sinar matahari terhampar dari pagi hingga sore hari. Kepungan teriknya menyebar dan menyinari setiap benda yang ditemuinya. Tingkah lakunya yang memiliki kecerdasan dan kesetiaan mampu mendobrak dinding kaca/transparan, menembus segala ruang dan waktu milik bumi, merasuki perasaan manusia, dan hinggap disetiap warna, sekedar menagih kehidupan separuh waktu.
Bagi manusia, datangnya matahari menggiring manusia untuk merasakan limit kesadaran, dan merengkuh segala roda aktifitas manusia. Bisa saja, matahari hanyalah ‘alamat waktu’ bagi bumi. Namun matahari hadir kepada manusia kapan saja dan di mana saja, sebagai makna hidup ia siap engkau peralat. Sebagai metoda penyehatan di pagi hari, pengeringan bingkisan luar tubuh manusia, dan kalaupun engkau memetiknya dari angin yang menyadarkanmu pada suatu siang yang panas untuk engkau pergauli, matahari tak akan bertanya : “Mengapa engkau takut denganku ?”
Tidak, bahkan matahari bersedia menghadirkan dirinya tak cuma untuk manusia. Bukankah kelopak bunga-bunga mengerti kapan harus mengembang dan kapan harus menguncup? Bukankah angin tidak merekayasa embusannya sesuai dengan kepentingan-kepentingan? Bukankah matahari terbit tepat waktu pada momentum kewajarannya untuk terbit.
Kewajaran matahari adalah menerangi dengan adanya dan menggelapkan dengan tiadanya. Kewajaran angin adalah menafasi dan melemparkan. Kewajaran air adalah meminumi dan menenggelamkan. Kewajaran manusia adalah kesetiaan berjuang me-manage dan mengadilkan takaran cahaya matahari agar menyehatkan, takaran kendali angin agar menyamankan, serta takaran nyala api agar mematangkan. Bagaimana pun tragedi kemanusiaan akhir-akhir ini ibarat bola salju ditengah terik matahari. Setiap sinarnya berhak untuk menemui apa saja yang ditemuinya. Tugas manusia untuk mewujudkan makna cahaya di atas cahaya.
- 505 reads
Send to friend

