Sudahkah kita membaca hari ini?

Versi printer-friendly

 

Dalam satu wawancaranya, JK. Rowling penulis buku best seller Harry Potter yang menghebohkan seantero dunia pernah berkata bahwa baginya membaca itu tidak perlu meluangkan waktu khusus, membaca bisa dilakukan kapan saja. Misalnya untuk dia sendiri, dia bisa membaca pada saat menunggui masakannya mendidih, pada saat berendam di bath tub, pada saat ia mengasuh anaknya dan saat-saat lain disela-sela kegiatan jadwal tetap.
 
Apakah anda pernah memperhatikan, dalam sehari berapa lama waktu yang anda habiskan untuk membaca? atau jangan berbicara berapa lama dulu, apa anda sempat membaca dalam sehari? Koran sih mungkin iya. Kalau buku, bagaimana? Ada apa dengan buku? dan kenapa koran? apa karena koran tulisannya lebih pendek, isinya lebih terkini, informasinya lebih beragam? sedangkan buku umumnya lebih tebal, tulisan panjang, isinya cuma tulisan saja tidak ada gambar biasanya?.  Katanya sih jumlah terbitan dalam 10 tahun terakhir baik itu koran, majalah dan buku meningkat. Tapi kenapa ya peningkatan ini tidak diikuti dengan meningkatnya minat baca? Kalaupun meningkat katanya yah terbatas pada koran dan majalah saja. "Ilmu niiii"...kata To' dalang dalam serial kartun upin ipin pada satu adegan dimana Mey-mey melayangkan buku keatas balai-balai. Iya, buku itu lebih syarat ilmu pengetahuan yang mampu meningkatkan kompetensi dibandingkan koran ataupun majalah yang lebih menjual hardnews. Namun tetap saja minat baca di negaera kita masih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga. Sebut saja Singapore,kurikulum disana mengharuskan siswa datang ke perpustakaan. Selain itu, siswa diwajibkan menyelesaikan suatu kegiatan persekolahan yang harus didukung oleh literatur yang cukup.
 
Bagaimana dengan kita? Di sebuah koran lokal saya pernah membaca artikel mengenai rendahnya minat baca kalangan PNS di kabupaten Wajo Sulawesi Selatan, yang oleh pemerintah setempat menindakinya dengan mengeluarkan instruksi kepada PNS untuk datang keperpustakaan dan membaca buku yang kemudian mereka diharuskan untuk membuat resume dari buku yang telah mereka baca.  Menurut saya setidaknya ada affirmative action yang bisa dilakukan. Seorang teman pernah bercerita pengalamannya di Malaysia, saat mereka sedang berada dalam bus, meskipun berdiri beberapa penumpang tampak dengan tenang membaca buku dengan salah satu tangan bergantung pada pegangan bus yang khusus disediakan bagi penumpang yang berdiri. Atau pengalaman saya di bandara Sukarno Hatta saat menunggu pesawat yang akan bertolak ke Makassar, bos saya yang berkebangsaan Jepang dengan santainya duduk dan membaca buku yang selalu dibawanya. Sangat kontras dengan penumpang lain yang juga sedang menunggu tapi hanya memilih clingak clinguk, duduk menutup mata atau hanya ngobrol dengan sesama penumpang lain.
 
Di Perpustakaan tempat saya saat ini menulis note pun, pengunjung lebih banyak menggunakan akses internet dibanding membaca buku yang bahkan menurut saya buku-buku ini harusnya bisa lebih terbaca karena memiliki koleksi unik yang tidak semua perpustakaan miliki. Dalam sekitar 30 orang pengunjung rata-rata tiap harinya, jumlah pembaca hanya berkisar 6-8 orang, selebihnya mengakses internet.
 
Saya sendiri suka membaca, banget. Seperti JK Rowling, saya tidak menetapkan satu waktu khusus untuk membaca. Tetapi biasanya saya bisa membaca lebih lama didalam perjalanan menuju pulang dari kantor pada saat di atas Pete-pete. Lumayan, beberapa lembar bisa terbaca dengan diselingi melihat kekiri dan kanan jalan karena jika tidak kepala pasti akan sedikit pusing. Atau pada saat sedang mengantri misalnya antri di apotik menunggu resep yang ditebus atau menunggu giliran di bank. Saya selalu membawa buku dalam tas tangan, menjaga-jaga kalau ada waktu dimana saya harus menunggu, lumayan bisa baca daripada bengong. Di rumah pun anak saya yang berumur 2 tahun sudah mulai saya biasakan mengenal buku dengan membelikan buku dongeng, komik Upin-Ipin, buku mengenal warna dan bentuk. Dan hasilnya menurut saya lumayan signifikan, dia kadang dengan sendirinya mengambil buku buku saya dari rak, membantingnya ke lantai dan kemudian membuka satu-persatu lembarannya meski dengan sedikit kasar yang tidak jarang membuat halaman buku saya sobek. Tapi saya tidak masalah dengan hal itu. Saya menganggap itu bagian dari proses memperkenalkan dia dengan buku dan menanamkan minat baca juga.
 
Buku adalah jendela ilmu. Saya setuju sekali dengan pernyataan itu dan membacalah cara kita untuk membuka jendela itu.
Jadi sudahkan kita membaca hari ini?

Dalam satu wawancaranya, JK. Rowling penulis buku best seller Harry Potter yang menghebohkan seantero dunia pernah berkata bahwa baginya membaca itu tidak perlu meluangkan waktu khusus, membaca bisa dilakukan kapan saja. Misalnya untuk dia sendiri, dia bisa membaca pada saat menunggui masakannya mendidih, pada saat berendam di bath tub, pada saat ia mengasuh anaknya dan saat-saat lain disela-sela kegiatan jadwal tetap. Apakah anda pernah memperhatikan, dalam sehari berapa lama waktu yang anda habiskan untuk membaca? atau jangan berbicara berapa lama dulu, apa anda sempat membaca dalam sehari? Koran sih mungkin iya. Kalau buku, bagaimana? Ada apa dengan buku? dan kenapa koran? apa karena koran tulisannya lebih pendek, isinya lebih terkini, informasinya lebih beragam? sedangkan buku umumnya lebih tebal, tulisan panjang, isinya cuma tulisan saja tidak ada gambar biasanya?.  Katanya sih jumlah terbitan dalam 10 tahun terakhir baik itu koran, majalah dan buku meningkat. Tapi kenapa ya peningkatan ini tidak diikuti dengan meningkatnya minat baca? Kalaupun meningkat katanya yah terbatas pada koran dan majalah saja. "Ilmu niiii"...kata To' dalang dalam serial kartun upin ipin pada satu adegan dimana Mey-mey melayangkan buku keatas balai-balai. Iya, buku itu lebih syarat ilmu pengetahuan yang mampu meningkatkan kompetensi dibandingkan koran ataupun majalah yang lebih menjual hardnews. Namun tetap saja minat baca di negaera kita masih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga. Sebut saja Singapore,kurikulum disana mengharuskan siswa datang ke perpustakaan. Selain itu, siswa diwajibkan menyelesaikan suatu kegiatan persekolahan yang harus didukung oleh literatur yang cukup.

 Bagaimana dengan kita? Di sebuah koran lokal saya pernah membaca artikel mengenai rendahnya minat baca kalangan PNS di kabupaten Wajo Sulawesi Selatan, yang oleh pemerintah setempat menindakinya dengan mengeluarkan instruksi kepada PNS untuk datang keperpustakaan dan membaca buku yang kemudian mereka diharuskan untuk membuat resume dari buku yang telah mereka baca.  Menurut saya setidaknya ada affirmative action yang bisa dilakukan. Seorang teman pernah bercerita pengalamannya di Malaysia, saat mereka sedang berada dalam bus, meskipun berdiri beberapa penumpang tampak dengan tenang membaca buku dengan salah satu tangan bergantung pada pegangan bus yang khusus disediakan bagi penumpang yang berdiri. Atau pengalaman saya di bandara Sukarno Hatta saat menunggu pesawat yang akan bertolak ke Makassar, bos saya yang berkebangsaan Jepang dengan santainya duduk dan membaca buku yang selalu dibawanya. Sangat kontras dengan penumpang lain yang juga sedang menunggu tapi hanya memilih clingak clinguk, duduk menutup mata atau hanya ngobrol dengan sesama penumpang lain.

 Di Perpustakaan tempat saya saat ini menulis note pun, pengunjung lebih banyak menggunakan akses internet dibanding membaca buku yang bahkan menurut saya buku-buku ini harusnya bisa lebih terbaca karena memiliki koleksi unik yang tidak semua perpustakaan miliki. Dalam sekitar 30 orang pengunjung rata-rata tiap harinya, jumlah pembaca hanya berkisar 6-8 orang, selebihnya mengakses internet.

 Saya sendiri suka membaca, banget. Seperti JK Rowling, saya tidak menetapkan satu waktu khusus untuk membaca. Tetapi biasanya saya bisa membaca lebih lama didalam perjalanan menuju pulang dari kantor pada saat di atas Pete-pete. Lumayan, beberapa lembar bisa terbaca dengan diselingi melihat kekiri dan kanan jalan karena jika tidak kepala pasti akan sedikit pusing. Atau pada saat sedang mengantri misalnya antri di apotik menunggu resep yang ditebus atau menunggu giliran di bank. Saya selalu membawa buku dalam tas tangan, menjaga-jaga kalau ada waktu dimana saya harus menunggu, lumayan bisa baca daripada bengong. Di rumah pun anak saya yang berumur 2 tahun sudah mulai saya biasakan mengenal buku dengan membelikan buku dongeng, komik Upin-Ipin, buku mengenal warna dan bentuk. Dan hasilnya menurut saya lumayan signifikan, dia kadang dengan sendirinya mengambil buku buku saya dari rak, membantingnya ke lantai dan kemudian membuka satu-persatu lembarannya meski dengan sedikit kasar yang tidak jarang membuat halaman buku saya sobek. Tapi saya tidak masalah dengan hal itu. Saya menganggap itu bagian dari proses memperkenalkannya dengan buku dan menanamkan minat baca juga.

Buku adalah jendela ilmu. Saya setuju sekali dengan pernyataan itu dan membacalah cara kita untuk membuka jendela itu.
Jadi sudahkan kita membaca hari ini?

Your rating: None Average: 3 (1 vote)
Tags: