Mempercepat pembangunan Gorontalo dalam perspektif MP3EI
Mempercepat pembangunan Gorontalo dalam perspektif MP3EI
Walaupun sempat menuai polemik, Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang digulirkan setahun silam tidak dipungkiri memiliki arti penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Setidaknya, melalui instrumen MP3EI, percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi akan memposisikan Negara ini sebagai negara maju pada tahun 2025 dengan pendapatan per kapita antara USD 14.250 – USD 15.500; dengan nilai total perekonomian (PDB) berkisar antara USD 4,0 – 4,5 Triliun. Ini bisa dicapai melalui kombinasi pertumbuhan ekonomi 8,0 – 9,0 % dan inflasi 3,0 % yang merupakan cerminan karakteristik negara maju. Kata “percepatan dan perluasan” berimplikasi bahwa dimasa yang datang Negara ini harus mampu memperluas basis pembangunan ekonominya hingga ke KTI. Pertanyaannya sekarang bagaimana Gorontalo mengambil manfaat dari “obsesi besar” ini?
Pencapaian sasaran MP3EI sejalan dengan mimpi besar rakyat Gorontalo dalam 25 tahun kedepan. Sebagaimana arahan RPJPD Provinsi Gorontalo 2005-2025, pertumbuhan ekonomi Gorontalo dalam 25 tahun kedepan diprediksikan terus meningkat hingga sekitar 8%. Ini diimbangi dengan kenaikan PDRB ADHB sebesar Rp. 48,75 trilyun (meningkat 12 kali lipat dibanding 2007) dan PDRB perkapita Rp. 37,5 juta/tahun (meningkat 5 kali lipat dibanding 2007). Pada tahun 2025 nanti, kontribusi sektor pertanian diprediksi masih mendominasi struktur perekonomian Gorontalo. Industri kecil menengah, perdagangan dan investasi akan terus berkembang antara tiga hingga lima kali lipat dari saat ini, yakni antara 12.000 hingga 16.000 unit usaha. Realisasi ekspor Gorontalo juga diharapkan meningkat antara 250.000 ton hingga 400.000 ton, terutama komoditi unggulan daerah berupa Jagung, Kopra, Gula Tetes, Minyak Kelapa Kasar, Tepung Kelapa, Sapi, Ikan, dan Udang/Kepiting.
Masuknya Gorontalo dalam pusat ekonomi pada Koridor IV Sulawesi MP3EI secara otomatis diharapkan bisa mendorong realisasi mimpi ini. Gorontalo, setidaknya akan berada dalam gerak bersama dinamika regional Sulawesi yang dihubungkan oleh economic interlink, antara supply dan demand komoditas ekonomi dan share vision yang tersirat dalam tema Koridor IV sebagai pusat Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Migas, dan Pertambangan Nasional. Semangat Not Business As Usual dalam penyediaan infrastruktur melalui Public-Private Partnership (PPP) akan sangat menguntungkan Gorontalo yang memiliki kapasitas fiscal yang terbatas. Gorontalo diuntungkan oleh kesepakatan di regional Sulawesi untuk mempromosikan pembangunan infrastruktur berbasis komoditas. Branding komoditas jagung Gorontalo, disusul tuna dan rumput laut yang saat ini sedang gencar-gencarnya dipromosikan akan sangat mendukung kesepakatan menjadikan Pulau Sulawesi sebagai lumbung pangan nasional. Ini artinya intervensi anggaran Pemerintah Pusat harus dipercepat dalam rangka mendukung percepatan pembangunan jalan arteri Sulawesi dan jaringan kereta api Sulawesi yang akan menghubungkan Gorontalo ke pusat-pusat ekonomi lainnya. Ini juga bisa berarti Kementerian/BUMN terkait bisa mulai memikirkan pengembangan pelabuhan Gorontalo dan Pelabuhan Anggrek termasuk perluasan kapasitas Bandara Gorontalo sehingga bisa menampung pergerakan arus barang dan jasa yang melewati pusat ekonomi Gorontalo.
Walaupun sejatinya implementasi MP3EI berada di tangan berbagai Kementerian, BUMN-BUMN termasuk swasta, Pemerintah Daerah tetap perlu memasukan program besar ini kedalam “local agenda setting”. Khusus untuk Koridor IV Sulawesi dapat diimulai dengan mengadaptasikan “mimpi besar” ini kedalam kesepakatan regional Sulawesi yang setiap tahunnya dibicarakan pada Musrenbang Regional Sulawesi. Kesepakatan ini nantinya akan dituangkan kedalam dokumen perencanaan pembangunan di setiap provinsi. Ini penting karena MP3EI menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional yang notabene menjadi referensi utama poliitk anggaran kita. Di Gorontalo, momentum penyusunan RPJMD Gorontalo 2012-2017 seyogyanya dioptimalkan dengan mensinergikan aspirasi yang tertuang dalam RPJPD Gorontalo dengan substansi MP3EI. Fokus percepatan dan perluasan ekonomi adalah pada pusat-pusat ekonomi di setiap Koridor. Untuk itu Pemda memiliki tanggung jawab mempersiapkan wilayah-wilayah zona pendukung terutama dalam ketersediaan infrastruktur sesuai kewenangan daerah. Tanpa penguatan local endowment factor maka pergerakan ekonomi regional di Koridor IV tidak akan berdampak banyak pada ekonomi Gorontalo.
MP3EI bisa jadi bernuansa politis rezim saat ini, namun bagi Gorontalo kita bisa mengambil semangat baru dalam pembangunan ekonomi yakni semangat kerjasama pemerintah-swasta dan pendekatan not business as usal.
Salam KTI
- arie's blog
- 366 reads
Send to friend
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>