Positive Discipline di Sekolah Ramah Anak
Saat seorang anak Sekolah Dasar di pedalaman Timor Barat ditanya, "Adik, apa yang kamu beli jika kamu punya uang?". Dengan serius ia menjawab, "Saya akan membeli sepatu yang tinggi biar kaki saya tidak sakit kalau ditendang bapak guru!"
Kekerasan pada anak masih menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh guru di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT). Para pendidik dan orang tua di daerah ini beranggapan bahwa watak orang NTT adalah keras, sehingga harus dididik dengan cara yang keras, seperti dipukul atau dihina.
Telah banyak penelitian menunjukan bahwa kekerasan yang dilakukan guru terhadap anak hanya akan berdampak buruk terhadap perkembangan anak. Hasil penelitian Valley pada tahun1996 , mengungkapkan hukuman fisik hanya berakibat negatif terutama anak anak yang rentan, dapat menyebabkan menurunnya kemampuan anak untuk berkonsentrasi, mematikan harga diri dan rasa percaya diri anak, dan secara umum menyebabkan anak tidak suka atau takut ke sekolah. Hukuman fisik juga dapat meruntuhkan rasa kepedulian antara pendidik dan yang dididik, serta mengajarkan kepada anak untuk menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah atau mengungkapkan rasa ketidakpuasan. Tidak hanya itu, hukuman fisik bahkan meningkatkan agresivitas anak dan mengurangi disiplin diri.
Sebenarnya cara yang efektif dalam menghadapi perilaku anak adalah dengan menerapkan positive discipline, sebuah tindakan mendisiplinkan anak tanpa kekerasan, berfokus pada pemecahan masalah, saling menghormati, dan didasarkan pada prinsip-prinsip perkembangan anak (Joan E. Durant, Ph.D dalam Positive Discipline What It Is And How To Do It). Banyak penelitian menunjukan bahwa penerapan positive discipline di sekolah dan di rumah memberikan dampak positif kepada perubahan perilaku anak, menurunkan vandalisme, membuat suasana kelas jadi menyenangkan, meningkatkan prestasi akademis, meningkatkan hubungan yang baik antara sekolah, orangtua dan masyarakat, menurunkan perilaku sosial yang beresiko (terlibat merokok, alkohol & narkoba), meningkatkan keterampilan sosial, dan menurunkan kasus bunuh diri pada anak.
Prinsip-prinsip positive discipline adalah: membantu anak merasa diterima oleh lingkungannya sehingga membangun kepercayaan diri mereka; menghormati hak anak dan mendorong anak untuk berkelakuan baik (sayang namun tegas dalam satu waktu); membantu anak untuk belajar berperilaku baik; mengajarkan keterampilan hidup dan keterampilan sosial (saling menghormati, peduli terhadap sesama, bekerjasama, memecahkan masalah); dan memotivasi anak untuk menghargai kemampuannya agar semakin percaya diri dalam proses belajar.
Yayasan SUTRA saat ini aktif memberi pelatihan metode positive discipline sebagai alat bagi guru dan orangtua untuk mendisiplinkan anak dengan cara-cara yang positif, baik di sekolah maupun di rumah. Dalam metode positive discipline, guru dan orangtua dilatih memahami latar belakang perilaku serta perkembangan anak dan keterampilan berupa pengendalian diri (Behavioural Management) dan respon yang positif terhadap perilaku anak.
Sejalan dengan itu, Plan International Indonesia, sebuah lembaga non profit yang sangat peduli terhadap anak, mengembangkan program Sekolah Ramah Anak (SRA) di NTT. Program ini dimaksudkan untuk mengurangi kekerasan terhadap anak (child abuse ) di sekolah sehingga menjadi lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar.
Untuk memperkuat SRA yang telah dijalankan, Plan International Indonesia di Dompu, Lembata dan Kupang bekerja sama dengan Yayasan SUTRA memberi pelatihan dan pendampingan mengenai positive discipline kepada para guru, kepala sekolah, pengawas TK/SD dan kepala UPTD Pendidikan Tingkat Kecamatan. Pelatihan ini berlangsung selama empat hari dan dilanjutkan dengan kunjungan ke sekolah guna memberi dukungan kepada para guru dalam mempraktekkan positive discipline.
Cara berpikir para guru dan orangtua tentang kekerasan terhadap anak dan dampaknya menjadi kendala utama penerapan positive discipline di NTT. Banyak sekali mitos yang melekat kuat pada masyarakat tentang kekerasan, misalnya kekerasan adalah cara yang baik untuk mendorong anak meraih kesuksesan, kekerasan adalah cara yang paling mudah agar anak menjadi penurut, dan masih banyak lagi mitos-mitos sejenis.
Dampak negatif pendidikan yang akrab dengan kekerasan, sayangnya telah menjadi bagian dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti mengambil hak orang lain, mencari keuntungan dengan mengorbankan kepentingan orang lain, bahkan menindas orang lain secara ekonomi. Sudah saatnya kita mengubah sikap dalam mendidik anak-anak kita dengan cara-cara yang positif di rumah dan di sekolah.
Untuk menyiapkan generasi mendatang yang bertanggungjawab terhadap sesamanya serta menjadi warga Negara yang baik dan memutuskan mata rantai kekerasan terhadap generasi penerus kita, maka sekolah sebagai lembaga pendidikan harus meninggalkan kekerasan dalam mendidik para muridnya. Demikian juga para orangtua untuk berhenti menggunakan kekerasan dalam mendidik anak-anaknya.
Akan sangat efektif jika positive discipline dapat diterapkan oleh para orangtua dan guru agar anak-anak dapat menghargai sesama serta mengutamakan pemecahan masalah dengan cara-cara yang positif dan akan menjadi warga negara yang baik. Patut diingat bahwa mendisiplinkan anak adalah mengasah perilakunya dan membantu mereka belajar mengendalikan diri.
Oleh Zainal Asikin, Direktur Yayasan SUTRA
Lembaga/Institution:
Yayasan SUTRA
Lokasi/Location: Nusa Tenggara Timur
Untuk informasi lebih lanjut mengenai pelatihan ini/For more information about the training please contact :
Yayasan SUTRA Jl. Kabesak Gg. Macan No. 4 Kel. Oesapa Kota Kupang NTT - Indonesia.
Telp. +62 0380 881914 Cell phone. +62 0813 3944 9167 - Email: sutrafoundation@gmail.com - http://sutrafoundation.blogspot.com/
- 1076 reads
Send to friend
