Misteri 11 September 2001
Sepuluh tahun setelah serangan teroris atas Pentagon dan gedung World Trade Centre di New York yang menewaskan ribuan orang tak berdosa dan, sebagai ”balasan”, puluhan ribu nyawa tak berdosa lainnya harus melayang di Afganistan dan Irak, pelaku utamanya masih menjadi perdebatan.
Ironisnya, pemerintahan AS di bawah George W Bush setelah itu terkesan memaksakan kehendak untuk menyerang Afganistan yang dianggap melindungi Osama bin Laden yang dituduh sebagai pelaku utama serangan teroris tersebut. Alasan serupa juga dipakai ketika menyerang Irak setelah tidak menemukan bukti adanya senjata pembunuh massal di Negeri 1001 Malam ini.
Tak heran, banyak pihak bertanya-tanya, bahkan dari waktu ke waktu semakin mencurigai ada sesuatu di balik serangan teroris paling mengerikan dalam sejarah anak manusia tersebut. Rasa curiga tidak hanya ada pada kelompok Muslim fundamentalis, tetapi juga mulai merambah ke masyarakat Barat demokratis. Di Jerman, misalnya, menurut polling mingguan bergengsi Die Zeit, dari tahun ke tahun terjadi peningkatan jumlah warga yang curiga atas kebenaran versi resmi Pemerintah AS tentang serangan 11 September 2001. Terakhir, jumlahnya mencapai angka 34 persen penduduk (20/8/2011).
Suara skeptis
Suara skeptis pun bermunculan di AS yang diwakili oleh sebuah kelompok inklusif ”9/11 Truth Alliance”, perkumpulan untuk pengungkapan 11 September 2001, yang merupakan gabungan perorangan atau organisasi yang beragam. Yang menarik, kelompok inti dari perkumpulan ini adalah orangtua atau keluarga dekat (sebagian) korban yang sama sekali tidak puas dengan informasi dan ”penggelapan bukti” (Broeckers, 2003) dari peristiwa yang juga disebut sebagai ”pembunuhan massal di New York” itu. Selain kerabat dan keluarga dekat para korban, kelompok ini juga didukung mantan anggota Kongres, jenderal purnawirawan, penulis terkenal, mahaguru beberapa universitas, dan kelompok perempuan AS.
Di antara ribuan suara skeptis yang menuntut jawaban atas ”Unanswered Questions of 9/11”, terdapat penulis terkenal AS, Gore Vidal dan Noam Chomsky; ekonom asal Kanada, Michel Chossudovsky; penulis Inggris, Nafeez Ahmed; mantan anggota Kongres AS, Cynthia McKinney; serta mantan wakil menteri di kabinet Bush Senior, Catherine Austin Fitts dan Mark Crispin Miller yang adalah profesor di New York University.
Beberapa dari ”Unanswered Questions of 9/11” memang sangat mengganggu dan menggelitik untuk segera dijawab oleh Pemerintah AS. Misalnya, mengapa Presiden Bush, meski telah diberi tahu adanya pesawat pembajak yang menabrak gedung WTC dan Pentagon, selama 45 menit berdiam di salah satu sekolah dasar di Florida tanpa melakukan sesuatu? Atau mengapa Menteri Pertahanan Rumsfeld juga bersikap sama? Begitu pula, meski bila bertindak cepat, terdapat cukup waktu, kenapa Angkatan Udara AS tidak bereaksi sesuai standar untuk menggiring keluar pesawat dari zona larangan terbang sebelum menabrak WTC?
Kelompok perkumpulan yang anggotanya kini mulai merambah negara-negara di luar AS ini dengan rendah hati mengakui tidak mengetahui jawaban atas berbagai pertanyaan tak terjawab itu. Namun, dengan jelas diakui bahwa apa yang selama ini menjadi versi resmi dianggap telah menyembunyikan kebenaran. Pada saat yang sama, Pemerintah AS dan juga banyak negara di dunia dinilai telah menjadikan tragedi 11 September sebagai alasan untuk menjadi semakin represif. Tak jarang, sambil melanggar konstitusi negerinya. Dengan mengorbankan demokrasi.
Sembilan tahun lalu, saya menulis di harian ini setelah membaca sebuah buku yang ”menghimpun” berbagai keganjilan dalam tragedi kemanusiaan 11 September 2001. Buku berbahasa Jerman yang semenjak terbitnya (September 2002) telah dicetak ulang sebanyak 45 kali ini telah pula diterjemahkan ke puluhan bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia (2003). Mathias Broeckers, penulis buku tersebut, masih bersikukuh bahwa ”hingga kini, pelaku kejahatan paling mengerikan dalam sejarah anak manusia ini sama sekali belum terungkap”.
Dalam buku terbarunya, Der Einstuerz eines luegen Gebaeudes (Runtuhnya Sebuah Bangunan Kebohongan), Broeckers menulis bahwa sebagian dari teroris pelaku serangan 11 September sebelumnya telah mengenyam pendidikan di beberapa pusat pelatihan militer AS, termasuk di sekolah penerbangan milik Jeb Bush, Gubernur Negara Bagian Florida, yang juga adik Presiden George W Bush.
Dilenyapkan
Pasca-11 September 2001, semua material dan dokumen rekaman yang bisa menjadi bukti tentang pelatihan tersebut lenyap. Terungkap pula hal menarik berkaitan dengan pilot teroris Muhammad Atta. Menurut Broeckers, Atta mempunyai hubungan akrab dengan dinas rahasia Jerman dan AS. Menurut pengakuan seorang petugas perbatasan, ketika Atta ke AS tanpa mengantongi visa, setelah berbicara dengan seorang pejabat, ia diperbolehkan melintasi perbatasan dengan pemberian izin untuk masa delapan bulan.
Fakta terbaru yang dikumpulkan oleh beberapa ilmuwan menguatkan keraguan atas versi resmi serangan teroris tersebut. Pertama, diperlukan klarifikasi berkaitan dengan penyebab runtuhnya tiga (bukan hanya dua) gedung WTC dengan kecepatan tinggi, terutama bangunan WTC 7 yang tidak ditabrak pesawat dan tidak disebutkan dalam laporan resmi hingga tahun 2005.
Kedua, bagaimana menerangkan temuan ilmiah terkait partikel nanothermit dalam debu reruntuhan WTC? Teori yang diajukan, tidak mungkin tabrakan pesawat meruntuhkan tiga bangunan WTC tanpa ada bahan peledak yang disiapkan sebelumnya di hampir semua tingkat bangunan. Ada saksi di lantai dasar yang selamat dan mendengar bunyi ledakan di lantai atasnya.
Sayangnya, bagi rezim Bush, semua keraguan terhadap versi resmi dicap sebagai ”teori konspirasi” yang tak patriotis. Motonya, ”siapa yang tidak bersama kami adalah musuh kami”. Hal inilah yang diyakini membuat sebagian besar media massa utama menolak memberikan ruang bagi mereka yang berbeda pendapat.
Namun, agak sulit dipahami bahwa keinginan kuat AS untuk memerangi terorisme sering kali dibarengi sikap tertutup. Perubahan terhadap sikap ini sangat diperlukan untuk meng-counter klaim Broeckers dan para ilmuwan lainnya serta menghapus keraguan banyak pihak tentang versi resmi pelaku utama tragedi 11 September. Setelah terbunuhnya Osama bin Laden dan terpilihnya Obama, tanpa adanya perubahan sikap tersebut, dicemaskan akan mendorong semakin banyak orang menganggap hal ini sebagai indikasi yang membenarkan klaim Broeckers dan mereka yang tak mudah percaya tadi.
IVAN A HADAR Direktur Indonesian Institute for Democracy Education; Editor Bahasa Buku (Terjemahan) Konspirasi, Teori-teori Konspirasi dan Rahasia 11.9
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/09/12/04040759/misteri.11.september.2001
- 388 reads
Send to friend
