Butuh Kemauan Politik Kembangkan Energi Terbarukan

Versi printer-friendly

Batang Uru, sebuah desa di Sulawesi Barat, terletak sekitar enam kilometer dari jaringan PLN. Namun,sejak puluhan tahun,Batang Uru di malam hari nyaris gelap gulita.

Beruntung, ada Pk Linggi, mantan kepala desanya yang berhasil memanfaatkan air sungai menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Kini Batang Uru adalah sedikit dari desa di Indonesia yang bisa memenuhi 100% kebutuhan listriknya secara mandiri. Tak ada lagi byar-pet, termasuk untuk berbagai kegiatan ekonomi yang membutuhkan listrik. Siang dan malam. 

Saat ini harga minyak mentah di bursa internasional berada pada kisaran USD94-95 per barel.Tren penguatan ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga menembus batas psikologis USD100 per barel. Harga minyak yang tinggi, diakui pemerintah, telah menyebabkan pembengkakan anggaran dan menekan nilai tukar rupiah. Sebuah lembaga penelitian menghitung bahwa setiap USD1 kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN USD80 per barel akan memperbesar defisit APBN setidaknya Rp550 miliar. 

Hal yang mendesak setelah terjadi perubahan status kita sebagai negara yang pernah menjadi salah satu pengekspor minyak terbesar menjadi negara pengimpor adalah memanfaatkan potensi energi terbarukan milik kita yang belum banyak diupayakan pemanfaatannya. Kebijakan energi nasional yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 5/2006 menempatkan penggunaan energi baru dan energi terbarukan pada prioritas keempat setelah batu bara,gas,dan BBM. Energi baru yang dimaksud adalah energi yang dihasilkan teknologi baru, termasuk nuklir.Namun, sebagai negara yang sering diguncang gempa, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) terbilang rawan. 

Energi Terbarukan 

Sementara energi terbarukan adalah sumber energi yang dihasilkan sumber daya energi yang secara alamiah tidak akan habis seperti aliran sungai di Desa Batang Uru, panas bumi, biofuel, panas surya, angin, biomassa, biogas, ombak laut, dan suhu kedalaman laut. Bagi negeri tropis seperti Indonesia, salah satu energi alternatif yang tak terbatas adalah sinar matahari. 

Saat ini energi sinar matahari yang dipancarkan ke planet bumi 15.000 kali lebih besar dibandingkan penggunaan energi global dan 100 kali dibandingkan cadangan batu bara, gas, dan minyak bumi. Sementara teknologi mutakhir telah mampu mengubah 10 hingga 20% pancaran sinar matahari tersebut menjadi energi. Secara teoritis, untuk mencukupi kebutuhan energi global, penempatan peralatan tersebut, hanya memerlukan kurang dari 1% permukaan bumi. Sebuah besaran yang jauh lebih kecil dibandingkan lahan yang dibutuhkan bendungan pembangkit tenaga listrik.

Sayangnya, meski Indonesia memiliki energi matahari berlimpah ruah berikut seabrek kelebihannya, tohpemanfaatannya saat ini masih sangat minim. Ironisnya, negara-negara di belahan utara yang relatif miskin matahari lebih banyak memanfaatkan sumber energi terperbaharui, ramah lingkungan, dan aman ini dibandingkan kita di kawasan tropis. Mulanya sumber energi ini dikembangkan penggunaannya bagi satelit ruang angkasa.Kini pemanfaatannya mulai menyebar ke kawasan industri,rumah pribadi,dan bahkan ke pelosok desa.Tak lama lagi ia diramalkan akan menjadi sumber energi pada pembangkit tenaga listrik kapasitas besar.Ketika harga minyak pasar internasional mencapai USD60 per barel, minat industri pembangkit tenaga listrik pada sumber energi terbarukan semakin membesar. 

Pertimbangan ekonomi menjadi alasan pertama.Kini persaingan ini telah terjadi di negara-negara industri, khususnya di sektor industri kecil dan menengah. Menurut Report on World Development (UN, 1992), kebutuhan energi global dalam 30 tahun ke depan meningkat dua kali lipat per tahun. Dan, 40 tahun mendatang, kebutuhan tersebut menjadi tiga kali lipat atau sepadan dengan energi 20 miliar ton minyak bumi.Perkembangan ini ditaksir bakal mahal karena eksploitasi dan eksplorasinya lebih sulit. Ada baiknya kita bayangkan bahwa penggunaan 20 miliar ton energi per tahun itu memerlukan biaya USD4,5 triliun. Separuhnya adalah pengeluaran negara-negara berkembang. Indonesia yang setiap tahun disinari energi matahari sebesar 2500 kw/hrs berpotensi besar untuk keluar dari ketergantungan pada energi fosil seperti BBM. 

Kelebihan Energi Matahari 

Kelebihan energi matahari yang sering diungkapkan adalah pembakarannya tidak menghasilkan CO2, SO2, dan gas racun lainnya. Uraian singkat tentang dua pembangkit energi dari sinar matahari, yaitu solar thermal dan photo galvanic, berikut ini menggambarkan hal tersebut.Keduanya tidak membutuhkan areal yang luas bagi peralatannya. Ide awal tentang pembangkit tenaga listrik solar thermal sudah sangat tua. Pembangkit listrik pertama dibangun di Mesir pada 1912, tetapi ditutup saat usai Perang Dunia I karena rendahnya harga minyak. Prinsipnya, sederhana. 

Sinar matahari diperkuat oleh cermin yang mengalihkannya ke alat penyerap berisi cairan. Cairan ini memanas dan menghasilkan uap yang membangkitkan generator turbo pembangkit tenaga listrik.Di California,AS, alat ini telah mampu menghasilkan 354 megawatt listrik. Dengan memproduksinya secara massal,harga satuan energi matahari ini—di AS,sekitar Rp100 per kwh—lebih murah dibandingkan energi nuklir dan sama dengan energi dari tenaga pembangkit dengan bahan baku energi fosil. Sementara itu, pengembangan pembangkit listrik photo galvanic berkembang cepat sejak dua dasawarsa terakhir. 

Harga peralatannya merosot tajam berkat keberhasilan teknologi, padahal kebijakan energi nasional maupun internasional sama sekali tidak mendukung. Subsidi besarbesaran hanyalah untuk pembangkit tenaga listrik dengan sumber energi fosil dan nuklir. Energi photo electric pertama kali diungkapkan Edmond Bacquerel pada 1839. Penggunaannya yang terbaru menggunakan sel-sel photo galvanic. Akibat sengatan sinar matahari, sel-sel tersebut melepaskan elektron yang dipaksa berputar dengan dampak terjadinya aliran listrik. Sel-sel tersebut dikemas dan dijual dalam bentuk modul yang dapat digunakan pada teknologi tegangan tinggi.Awal 70-an, harga per modul masih sangat mahal, yaitu USD300.000.Kini harganya sekitar USD5.000. Masih relatif mahal memang.Tetapi, melihat pesatnya perkembangan pasar, harganya akan terus menukik turun. Salah satu pasar potensial adalah mobil bertenaga listrik yang diramal bakal menjadi mobil massal di abad mendatang. 

Kemauan Politik 

Menilik berbagai kelebihan energi terbarukan, pertanyaan yang kemudian timbul,apakah cara menunjang pengembangan dan perluasan penggunaan energi ini sehingga sinkron dengan kebijakan energi nasional dan global? Pertama, harus ada diversifikasi penelitian dan pengembangan.Dana penelitian energi ramah lingkungan ini, sayangnya, dari tahun ke tahun menyusut.Di negara-negara industri, hanya sekitar 5% dana penelitian yang diperuntukkan bagi sektor energi. 

Darinya, sebagian besar untuk jenis energi fosil. Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,hal tersebut lebih memprihatinkan. Kedua, dengan perkembangan teknologi saat ini, biaya produksi energi terbarukan ini bisa bersaing dengan harga energi fosil.Namun, tentu saja, untuk memproduksi energi matahari dengan solar thermal technical dan PV technical dalam kategori massal diperlukan kemauan politik.Ketika Indonesia masih menjadi produsen dan eksportir minyak dan di dalam negeri harga jualnya masih sepenuhnya disubsidi,mungkin terkesan tidak realistis untuk mendudukkan energi terbarukan pada posisi penting. Namun, kini keadaan sudah sangat mendesak untuk berpikir dan bertindak mengantisipasinya. Semoga! (*)

Ivan A Hadar Koordinator Nasional Target MDGs, Anggota Forum KTI 
(Dimuat juga di Koran Sindo 09 Januari 2011)

    Your rating: None Average: 5 (5 votes)
    Tags: