Batanguru: Mandiri di Tengah Krisis Energi

Krisis energi merupakan salah satu tantangan yang tengah dihadapi oleh ratusan juta penduduk bumi saat ini. Bagi masyarakat di Kawasan Timur Indonesia yang sebagian besar bermukim di daerah-daerah yang terisolasi secara geografis, tantangan terbesar yang dihadapi terkait ketersediaan energi adalah minimnya jangkauan layanan listrik. Saat ini kapasitas terpasang pembangkit listrik oleh PLN masih terkonsentrasi di Jawa-Bali (74% pada tahun 2006) sedangkan Kawasan Timur Indonesia yang mencakup hampir 40% wilayah Indonesia, hanya mendapat 6%.

Desa Batanguru di Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat juga mengalami tantangan. Namun sejak tahun 2004, masyarakat desa ini berhasil mencukupi kebutuhan listrik mereka dengan memanfaatkan teknologi mikrohidro. Bukan hanya itu, mereka juga mempelajari teknologi tersebut dan berhasil membuat dan memasarkan sendiri pembangkit listrik mikro hidro ke berbagai desa lain yang belum mendapatkan layanan listrik. Upaya ini mengantarkan mereka menjadi Desa Mandiri Energi pada tahun 2008. 

Walaupun Desa Batang Uru telah dinobatkan sebagai Desa Mandiri Energi pada tingkat nasional dan inisiatif cerdas mereka telah dilaporkan dalam media massa terkemuka, namun masih banyak daerah di Provinsi Sulawesi Barat dan daerah lain di Kawasan Timur Indonesia yang belum mengetahui mengenai inisiatif ini. 

FILM CAHAYA AIR BATANGURU

Sebuah film dokumenter tentang pemanfaatan mikrohidro sebagai sumber listrik di desa yang belum terjangkau layanan listrik PLN telah dibuat sebagai media untuk memberi pemahaman umum dan menginspirasi masyarakat di daerah lain dalam menjawab tantangan minimnya layanan listrik.  Film dokumenter dengan judul “Cahaya Air Batanguru” diluncurkan pada tanggal 5 April 2010 di Gedung Pola, Kantor Gubernur Sulawesi Barat atas kerjasama Yayasan BaKTI dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. Peluncuran film dokumenter ini dilanjutkan dengan diskusi yang dihadiri oleh SKPD Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, perwakilan dari kabupaten se-provinsi Sulawesi Barat, Perwakilan PNPM, LSM, Universitas dan  Media di provinsi Sulawesi Barat.

Kegiatan ini diawali dengan Sambutan Direktur Eksekutif Yayasan BaKTI, Ibu Caroline Tupamahu dan sambutan Asisten Bidang Ketataprajaan (Asisten 1) Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, Bapak Akhsan Djalaluddin yang mewakili Gubernur Sulawesi Barat dan sekaligus membuka acara dengan resmi.  Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran Film Praktik Cerdas “Cahaya Air Batanguru” dan diskusi film dengan narasumber Ir. Linggi, Inisiator mikrohidro di Desa Batanguru, Mamasa. 

Direktur Eksekutif Yayasan BaKTI dalam sambutannya berharap lewat film dokumenter ‘Cahaya Air Batanguru’ dan diskusi yang dilaksanakan, dapat menimbulkan pemahaman yang lebih baik mengenai berbagai upaya mengatasi minimnya jangkauan layanan listrik  di daerah terpencil, termasuk inisiatif cerdas masyarakat Desa Batanguru dan juga kemandirian energi desa Batanguru dapat terangkat dan menginspirasi daerah-daerah di Sulawesi Barat dan daerah lain di Indonesia untuk dapat mereplikasinya. 

Dalam sambutannya, Bapak Asisten Bidang Ketataprajaan, Bapak Akhsan Djalaluddin sangat mengapresiasi inisiatif Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Desa Batanguru yang dilaksanakan oleh Pak Linggi yang juga pernah memperoleh predikat nasional Desa Mandiri Energi tahun 2008. Beliau berharap inisiatif cerdas ini dapat menjadi inspirasi bagi lahirnya inisiator-inisiator lain di masa yang akan datang dan dapat menjadi proses pembelajaran bagi semua stakeholder pembangunan di Sulawesi Barat. Pada kesempatan tersebut, Bapak Akhsan Djalaluddin juga menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin melaksanakan Program Gerakan Pembangunan Desa Mandiri Berbasis Masyarakat yang dikenal dengan Program Bangun Mandar.  Program ini dilaksanakan untuk mengurangi kesenjangan pembangunan yang ada antara daerah perkotaan dan pedesaan dengan melakukan gerakan pembangunan yang melibatkan masyarakat pedesaan dalam program pemberdayaan masyarakat sebagai bentuk pendekatan pembangunan selain dari pendekatan pertumbuhan ekonomi. Program Bangun Mandar ini diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat pada tanggal 8 April 2010 di Mamuju, Sulawesi Barat. Diharapkan inisiatif-inisiatif lokal seperti yang dilaksanakan oleh Pak Linggi dapat terus bertumbuh dan berjalan bersama-sama  dengan program Pemerintah.

Pak Linggi membuka pengantar diskusi bahwa beliau adalah seorang sarjana yang pulang kampung. Ide awal beliau melaksanakan proyek PLTMH adalah pada saat itu desanya (Batanguru) sulit untuk mendapat listrik PLN. Sebagai seorang sarjana elektro, beliau menilai bahwa sumber daya alam melimpah (air) sebagai potensi untuk membuat pembangkit listrik tenaga mikro hidro. Untuk meyakinkan masyarakat desanya, beliau menggunakan uangnya sendiri untuk membangun PLTMH tersebut dengan bantuan tenaga dari masyarakat Desa Batanguru. Dengan dukungan Program Pengembangan Kecamatan (PPK), sekarang usahanya sudah berkembang. Saat ini Pak Linggi telah berhasil membuat lebih dari 100 unit turbin PLTMH dengan total kapasitas lebih dari 1,2 Mega Watt.

Pada sesi diskusi beberapa hal yang menjadi perhatian adalah adanya peluang-peluang wirausaha yang muncul dari inisiatif Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) ini. Untuk meyakinkan masyarakat mengenai inisiatif yang dilaksanakan, di awal inisiatif, perlu diberikan pemahaman terus-menerus kepada masyarakat dan lebih penting lagi, harus ada yang berkorban untuk menunjukkan manfaatnya kepada masyarakat. Terkait pemeliharaan hutan, apabila masyarakat sudah mengetahui manfaat dari PLTMH, mereka akan terdorong untuk memelihara hutan. Pada diskusi tersebut, Pak Linggi juga berbagi bahwa yang diutamakan dalam pelaksanaan PLTMH di Batanguru adalah pelayanan kepada masyarakat, setelah itu barulah profit. Pak Linggi juga menghimbau generasi muda yang ingin belajar tentang pembuatan turbin untuk datang dan belajar di Batanguru secara gratis. Hal ini bertujuan agar program seperti ini dapat dikembangkan secara luas di wilayah lain. Pemerintah Kabupaten Majene juga menyampaikan bahwa potensi mikro-hidro di Majene cukup besar, ada 27 titik potensi mikro-hidro. Perwakilan dari Kabupaten Majene ingin mengundang Pak Linggi untuk belajar mengenai Unit Pengelola Turbin, bagaimana cara pemilihan personil, manajemen, dan lainnya. Ada komitmen yang besar dari Pemerintah Sulawesi Barat untuk program-program pemberdayaan masyarakat. Ini terlihat dengan adanya program Bangun Mandar dan ikut sertanya Pemerintah Sulawesi Barat dalam Gelar Teknologi Tepat Guna yang akan dilaksanakan di Yogyakarta pada bulan September yang akan datang dan Pak Linggi juga diundang untuk ikut serta pada kegiatan ini. Pak Linggi juga dihimbau oleh peserta diskusi untuk mengurus hak cipta dari pembuatan turbin serta dapat melaksanakan sosialisasi mengenai inisiatif ini di tingkat kabupaten.